MENAKAR HATI, MENIMBANG RASA

Berdiam diri di rumah bagi seorang perempuan adalah lebih baik. Jihad utama kita khan ada di sana. Banyak pekerjaan ibu rumah tangga yang harus kita selesaikan, dari  mulai sapu-sapu hingga cuci baju. Dari mulai bagian dalam sampai halaman depan. Pereteli tugasnya satu-satu dan kita kerjakan sebaik  mungkin...habis tuh waktu kita untuk urusan pekerjaan rumah tangga. Dan satu yang jangan dilupa...semua itu kita lakukan setiap hari tanpa terkecuali. Bila anak-anak kita sudah besar masih mending ada yang bantu, bayangkan apabila anak-anak kita lagi imut-imut bin lucu-lucunya....alamaaak, tantangan pekerjaannya jangan ditanya lagi.

Cerita bagaimana anak-anak diikutsertakan hampir pada setiap aktifitas ibunya sudah tak asing lagi. Di rumah sama anak, ke pasar bawa anak, ke pengajian gendong anak, jalan-jalan...so pastilah bersama anak.

Yang lebih luar biasa lagi, malam yang seharusnya untuk beristirahat, bagi sebagian ibu-ibu justru dipergunakan untuk mencuci baju. Bagi yang mempunyai mesin cuci cukup membantu, hemat tenaga, hemat waktu. Pagi-pagi tinggal dijemur pakaian yang telah dikeringkan semalam. Namun bagi mereka yang belum memilikinya, mencuci secara manual ya tetap dilakoni juga. Hal ini dilakukan bukan karena alasan malas mengerjakannya pagi-pagi. Namun, bila semua pekerjaan bertumpu di pagi hari...pasti ada yang keteteran. Urus anak, urus suami, mesti urus rumah pula.

Waktu yang demikian  padat dengan kondisi anak-anak yang masih kecil tanpa ada khadimah (pembantu), biasanya amat menyulitkan seorang ibu untuk bisa memiliki aktifitas lain di luar rumah. Fikiran dan tenaga amat banyak terkuras untuk urusan rumah tangga. Cape??? Jangan ditanya lagi. Mana ada sih pekerjaan yang tidak cape. Lha wong yang pengangguran juga sebenarnya dia tetap cape dengan kepenganggurannya. Bukan begitu?!

Di awal pernikahan dengan anak-anak yang masih kecil adalah masa perjuangan paling berat dalam ukuran pekerjaan rumah tangga. Karena dimasa ini biasanya:
Pengalaman berumah tangga masih minim;
Anak-anak masih sangat bergantung dan membutuhkan perhatian besar;
Masa beradaptasi dengan pasangan;
Ada keinginan yang harus kita tahan hingga anak besar;
Sulitnya memiliki waktu me time dll.


Beratnya perjuangan seorang ibu di awal pernikahan, apalagi yang berprofesi sebagai pegawai, kerap mengakibatkan sebagian diantaranya mengambil jalan keluar yang dianggapnya terbaik tapi  sebenarnya adalah keadaan yang memprihatinkan. Sah-sah saja seseorang melakukannya, namun apakah tidak sebaiknya difikirkan ulang kembali keputusan dan tindakan yang selama ini kita anggap benar. Dasar pertimbangannya sederhana saja: rasa tanggung jawab. Ketika dua orang manusia sudah memutuskan diri untuk menikah dan menjadi sepasang suami istri, pada saat yang bersamaan harus sudah menyediakan dirinya untuk mengambil seluruh konsekuensi dari status barunya sebagai suami-istri dan terus belajar mendewasakan dirinya.

Hal ini perlu disadari, agar saat berumah tangga kita belajar menunjukkan sikap mandiri, bertanggung jawab, dan tidak kolokan pada orangtua. Banyak kita perhatikan, iramanya telah berkeluarga, namun nadanya masih seperti anak perawan dan bujang yang selalu menyanyikan lagu “mama-papa”.

Tidak salah, karena sebenarnya selamanya kita akan terus sebagai anak dalam mata kedua orangtua kita kendatipun kita telah berkeluarga, namun tentu saja menjaga diri dari sikap terus meminta perhatian, patutlah diperhatikan. Bagaimanapun, bersedia menikah artinya bersedia untuk memulai kehidupan baru dan berdiri di atas kaki sendiri. Dengan demikian, ada dua sikap yang sebaiknya dihindari sebagai bentuk sayang kita pada orangtua:

Hindari meminta bantuan orangtua untuk mengasuh anak kita
Bila bukan sebab ber-KB atau memang sudah dari sananya berbadan gemuk, para ibu muda biasanya cenderung kecil, bila tidak dikatakan kurus. Beban pekerjaan rumah tangga sudah cukup menguras waktu, tenaga, dan energinya. Apalagi bagi para istri yang bekerja di luar rumah... lengkap sudah perjuangannya.

Seorang wanita berkeluarga diperbolehkan untuk bekerja di luar rumah sepanjang mendapat ijin dari suami. Namun hal ini biasanya berdampak juga pada keterbatasan kemampuannya dalam mengurus anak-anak dan mengelola rumah tangga. Waktu, tenaga, perhatian, dll yang terbagi, akhirnya menghadapkannya pada kebutuhan akan hadirnya seseorang yang bisa membantu. Tak mengapa apabila kemudian mampu mengambil seorang khadimah dan menggajinya. Namun bila tidak, siapakah sosok yang pertama kali terfikir oleh kita untuk dimintai bantuannya? Tepat.....pasti dia adalah ibu.

Siapa sih ibunya yang akan menolak permintaan anaknya saat  kehadirannya dibutuhkan? Tidak akan ada. Seorang ibu akan rela hati melakukan apapun demi kebahagiaan anaknya. Tanpa meminta imbalan sedikitpun. Hanya tegakah kita melakukan itu dengan meminta pengorbanan besar kedua darinya untuk bisa merawat, menjaga anak-anak kita yang adalah cucunya, setelah sebelumnya orangtua kita telah melahirkan, merawat, membesarkan, menjaga, mengurus, dan membiayai kita hingga bisa seperti sekarang ini?

Tegakah kita membiarkan orangtua kita yang semakin sepuh kembali disibukkan mengurus cucunya dan bukan menikmati masa tuanya?

Shalihaat, membawa orangtua pada posisi yang mengharuskan mereka untuk mengasuh, menjaga, dan merawat anak kita adalah sebuah sikap ketidakpekaan. Sekalipun kita percaya bahwa seorang nenek akan berbesar hati merawat cucunya (semoga Allah melimpahkan pahala yang banyak baginya, Aamyn), namun pada dasarnya harapan semua orang sama: mendapatkan apa yang menjadi haknya. Hak orangtua adalah mendapatkan masa tuanya tanpa beban tambahan yang diberikan anak-anaknya. Hak mereka adalah kewajiban bagi kita untuk memenuhinya.

Pilihan yang sulit memang. Di satu sisi butuh pekerjaan untuk menjaga asap dapur tetap mengepul di rumah. Di sisi lain ingin menunjukkan sebagai anak yang berbakti dan sayang pada orangtua. Hidup ini pilihan, Shalihaat. Dan sebaik-baik pilihan adalah dimana kita adalah orang yang pertama  kali menunjukkan sikap berkorban bagi kebaikan keluarga dan semua. Carilah jalan lain selain menjadikan orangtua sendiri sebagai babby sitter  bagi anak-anak kita. Jadilah orangtua yang matang dan mau belajar berjuang. Saling bahu membahu dan berpegangan tanganlah dengan pasangan untuk dapat mengatasi setiap  permasalahan di rumah tanpa banyak bergantung kepada orangtua.  

Pilihan solusi selalu ada bila kita mau berdamai dengan keadaan:
Mengambil khadimah yang artinya kita harus mampu menggajinya setiap bulan.
Menunda keinginan sementara waktu untuk bekerja sampai anak-anak cukup besar, yang artinya memastikan anak-anak tidak bergantung banyak kepada kita sehingga waktu kita bisa lebih luang. Dalam keadaan seperti ini, sikap qana’ah/merasa cukup sangat membantu menguatkan hati.
Membuka usaha sendiri sehingga tetap berpenghasilan dan keluarga tetap mendapat perhatian.  Pengaturan waktu bisa lebih fleksibel, menyesuaikan dengan kondisi kebutuhan keluarga. Kapan kita bekerja fokus pada usaha, kapan keluarga harus didahulukan.

Shalihaat, tidak ada seorang pun yang mengatakan ini mudah memang, namun pantas untuk difikirkan apabila kita sayang pada orangtua. Sekali keputusan diambil, jalani dan nikmati.

Hindari selalu curhat pada orangtua
Kekhilafan lainnya pada orangtua adalah menjejali telinga orangtua kita dengan aneka masalah rumah tangga. Pliiiss....ada saat memang kita membutuhkan nasihat dan saran dari orangtua kita, namun jangan pernah membiasakan setiap masalah pasti dibicarakan. Banyak berkeluh diibaratkan kita telah memberikan sampah-sampah fikiran kepadanya, mentransfer energi negatif yang mengganggu perasaannya. Jangan disangka sedih dan sakitnya orangtua adalah sama seperti yang kita rasakan. Sedih dan sakit hati mereka bisa dua kali lipat lebih besar dari kita. Maka jangan heran, apabila ada seorang anak curhat tentang perilaku kurang baik pasangannya, setelah masalah selesai dan sang anak kembali akur dengan suaminya, namun hati sang ibu tak demikian adanya.

Belajarlah untuk bisa mengatasi sendiri setiap masalah dalam rumah tangga. Pastikan hanya kebaikan-kebaikan rumah tangga yang lebih banyak kita sampaikan kepadanya. Jaga fikiran dan perasaannya agar tetap nyaman dan senang. Sebelum daya kemampuan dikerahkan, pantang untuk mudah meminta bantuan. Lakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh sepasang suami istri yang dewasa, selebihnya berdoalah sebagai sandaran kuat kita.

Tak elok pula ketika masalah besar datang, ujung-ujungnya pulang ke rumah orangtua dengan seabreg pakaian. Sekali dua kali masih bisa ditolerir...namanya juga rumah tangga baru. Lama-lama ya akal harus diajak bicara, masa iya sih mau dijadikan kebiasaan. Susah-senang, akur-bertengkar....ya tetap dalam satu atap. Kerucutkan masalah hanya ada dalam rumah kita agar mudah mencari jalan keluar. Sekali kita bawa keluar, jangan pernah berharap masalah tak melebar.

Suami-istri dengan tanggung jawab di pundak sebagai seorang ayah dan ibu, sudah selayaknyalah terus belajar untuk memperbaiki sikap menghadapi masalah dan terus belajar untuk pandai menata hati. Ambillah pelajaran berharga dari setiap ujian dan cobaan yang datang dalam rumah tangga kita. Bawa hikmahnya sebagai pijakan kuat menghadapi masalah lain di depan sana. Sebenarnyalah, Allah memberi kita masalah bukanlah untuk melemahkan daya kemampuan kita, membuat menderita, namun justru untuk semakin menguatkan potensi terbaik yang ada pada diri kita dan memunculkan kebaikan-kebaikan lain yang masih tersembunyi di dalamnya.

Masalah yang sama kadang berulang kali datang. Tapi sikap kita menghadapinya belum tentu sama. Bisa lebih baik atau sebaliknya, bergantung dari kemampuan kita menangkap danmenerima setiap pelajaran yang Allah berikan di Sekolah Kehidupan.


Shalihaat, semoga kita termasuk golongan manusia yang selalu istiqamah memperbaiki dirinya, terus semangat belajar agar semakin mengenal diri sehingga  bisa lebih mengenal Tuhannya.
Share:

NO TV, NO PROBLEM

Di tahun 1992-an pernah mendapati sebuah keluarga yang memutuskan diri untuk tidak menyediakan televisi di rumahnya dengan alasan karena banyaknya tayangan acara tv yang kurang mendidik. Selepas menikah dan memiliki tiga orang anak, hal yang sama kembali saya dapatkan dari salah seorang teman sewaktu kuliah dulu. Saya fikir: kok bisa, ya?! Tidak terbayangkan suasana rumah tanpa televisi, pasti sepi.

Selalu merasa salut, dengan keputusan sesiapapun untuk meniadakan televisi di rumah yang berseberangan dengan hampir kebiasaan banyak orang. Terus terang, saya sendiri belum bisa melakukannya kala itu walau keinginan untuk itu ada. Hanya tidak kebayang saja....bagaimana caranya dan kapan  harus memulai. Soalnya, jangankan anak-anak, diri sendiri saja masih suka nonton televisi sekalipun menyadari banyak menonton televisi dengan melakukan pendampingan aktif pada anakpun, ah rasanya tetap saja pengaruh itu jelas terasa pada mereka.

Tak dinyana, apa yang dahulu hanya sekedar keinginan, ternyata kejadian. Allah mempermudah harapan untuk meniadakan televisi di rumah. Sekitar tahun 2012 yang lalu, satu atau dua bulan setelah Idhul Fitri, tiba-tiba televisi di rumah rusak tidak menyala. Waaahhh...alamat harus diservice, nih. Satu minggu, satu bulan berlalu....televisi tak kunjung juga diperbaiki suami. Dan aku sendiri, entahlah...rasanya malas sekali mengurusnya, soalnya ini sudah rusak yang kedua kali. Anak-anak pun mulai protes, merengek karena tidak ada hiburan di rumah.

Si sulung cerita, dia merasa kudet alias “kurang up-date” dibanding teman-temannya sejak tak ada tv di rumah. Saat temannya cerita ini itu tentang acara tv, dia katanya hanya bisa menjadi pendengar. Lain waktu, datang merajuk dengan mengatakan ingin melihat acara islami tv seperti acara “khazanah” yang banyak memberikan informasi keislaman yang diamini oleh adik-adiknya. Bahkan anak laki-lakiku jadi sering nonton tv di rumah tetangga. Apalagi kalau Persib sedang bertanding, dia fans berat. Dilarang gimana, gak dilarang malu rasanya sama tetangga. Saya sendiri pun kadang masih memiliki keinginan untuk bisa sesekali melihat acara tv. Apalagi kalau sudah membayangkan, sore-sore ketika pekerjaan di rumah selesai, terus lihat acara kartun....waaah senang kayaknya. Walaupun sudah ibu-ibu, film kartun tuh tetap acara favorit. Hehehe.....

Ujian kedua pun berlaku. Pernah tuh, dua tahun dari sana, kami –saya dan anak-anak- sampai jalan-jalan ke toko elektronik hanya sekedar lihat-lihat harga tv. Harapan, siapa tahu ada barang yang bagus dan harganya ramah di saku. Untungnya -sesuatu yang saya syukuri di kemudian hari- suami sama sekali tak bergeming dengan rajukan anak-istrinya. Wajahnya tuh ya....lempeeeng banget saat aku cerita ini-itu soal tv. Waahh...alamat benar-benar gak akan bisa beli tv, nih.

Ya sudahlah....sebagai jubir suami yang baik (ciiieeee....) aku berusaha menerjemahkan sikap diamnya suami sebagai sebuah pesan bagi semua: NO TV di rumah. Aku kuatkan kembali niatku sendiri, kusamakan langkah dengan keinginan si “Cinta”, agar aku bisa menguatkan anak-anakku dan terus memberikan pengertian kepada mereka bahwa tanpa tv, kita semua akan baik-baik saja. Bahwa justru tanpa tv, ada banyak waktu yang bisa dipergunakan untuk hal lainnya yang lebih bermanfaat, lebih banyak waktu untuk kumpul dengan keluarga, belajar, tadarus al-Qur’an, dll.


Dan kini empat tahun berlalu (sejak tahun 2012), masa kami menyesuaikan diri tanpa tv di rumah telah dilalui. Kini, ketika aku bertanya pada anak-anak: lebih nyaman mana ada tv di rumah atau tidak ada tv, maka mereka akan serempak menjawab: lebih baik tidak ada tv. Alhamdulillah.

Shalihaat...pengalaman ini saya bagikan, bukanlah bermaksud untuk menunjukkan bahwa kami bisa tanpa tv di rumah. Namun lebih kepada, bagaimana Allah telah menolong kami sekeluarga, mendidik kami, menguatkan hati kami untuk melepaskan diri dari ketergantungan akan televisi. Allah tahu, bila kami sengaja meniadakan tv itu akan sulit, dan tentu protes anak-anak pun akan lebih keras lagi. Dan saya dan suami sendiri pun belum tentu bisa sekuat ini menyesuaikan diri dan membulatkan azam (tekad) untuk meniadakan televisi di rumah.

Manusia penuh keterbatasan. Dan saat mereka memiliki harapan serta keinginan baik, namun tidak tahu harus dari mana dan bagaimana caranya untuk memulai, maka Allah akan membantu dengan cara-Nya yang tak pernah disangka-sangka. Seluruh keadaan kita, akan Dia atur hingga akhirnya kita bisa menyesuaikan diri dengannya, dan terbiasa. Hanya satu yang perlu kita miliki: prasangka baik.

Cara Allah menolong hamba-Nya tidak melulu dengan seuatu yang serba mudah dengan fasilitas yang serba ada. Melalui kesempitan, kesulitan, keterbatasan....justru keberhasilan kerap bekerja lebih baik. Asal satu syaratnya kita penuhi: adanya prasangka baik pada-Nya.

Hikmah dari setiap peristiwa, tidak selalu kita sadari di awal-awal perjuangan. Namun boleh jadi setelah berbilang bulan atau tahun barulah kita menyadarinya. Demikianlah, bentuk kasih sayang Allah kepada semua hamba-Nya. Kebaikan tidak identik dengan adanya sesuatu. Tiadanyapun  bisa menghadirkan banyak kebaikan. Secara materi, memang kami kehilangan sebuah televisi. Namun saat Allah mengambilnya kembali, Dia menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik, yaitu anak-anak bisa fokus belajar, tak ada sinetron, tak ada infotainment, hemat biaya listrik bulanan, memiliki waktu lebih banyak untuk membaca al-Qur’an atau buku-buku, bahkan sekarang bisa menyempatkan diri untuk membuat tulisan, dll.

Shalihaat, berhasil melepaskan diri dari ketergantungan acara televisi telah membuat kehidupan kami lebih baik. Hidup tanpa tv sama sekali tidak lantas membuat dunia kami menjadi sepi, apalagi “kudet” berita dan informasi. Terlalu berlebihan. Karena buktinya, sampai sekarang kami sehat, baik-baik saja dan tetap bisa mengikuti apapun perkembangan dunia yang terjadi di luar sana.


Salam bahagia, semoga pengalaman yang kami bagikan ini bermanfaat, dan menularkan semangat bagi Shalihaat yang juga berniat untuk melakukan hal yang sama; NO TV, NO PROBLEM. 
Share:

PELANGI HATI IBU


Siapapun orang akan mengakui bahwa tidaklah mudah menjadi seorang ibu rumah tangga di abad ini. Jaman yang sudah banyak berubah, anak-anak yang semakin kritis, nilai hidup  yang semakin menurun, ajaran agama sesat yang berseliweran dimana-mana, internet dan gadget yang semakin berperan besar dalam aktifitas keseharian seseorang, tantangan hidup yang semakin berat, masalah yang semakin kompleks, situasi ekonomi yang melesu, kebutuhan hidup semakin membumbung tinggi dengan pendapatan suami yang belum tentu naik, semua itu adalah keadaan yang semakin melengkapi deretan  keluhan para ibu.

Tantangan zaman sekarang bagi para orangtua, terutama ibu, sungguh berat. Tapi, haruskah semua itu menjadi keluhan kita setiap hari yang memberangus kebahagiaan kita? Oh no! Bukan pilihan hidup menyenangkan. Sebagai manusia yang sadar pentingnya menikmati hidup dan dunia sebagai ladang pahala, maka pilihan kita pasti akan jatuh ingin menjadi seorang ibu dengan hati pelangi. Menjadi ibu yang bisa menularkan warna energi positif dan kebahagiaan kepada keluarga dan lingkungan.

Bisakah? Tentu saja sangat bisa, selagi ada kemauan untuk berusaha menciptakannya dalam kehidupan kita.

Allah swt berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ...
“…Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa, sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri…” (QS. ar-Ra’d [13]: 11)

Memulai hari dengan senyum dan penuh semangat
Saat mata terbuka mendapati pagi telah tiba, berdoalah dan hadirkan semangat harapan untuk menjadikan hari ini hari terbaik. Sugesti diri untuk menghadirkan energi kesehatan, kebahagiaan, optimis, kebaikan, dan kelancaran. Hal yang dimulai dengan kebaikan, maka dia akan mengiringi sepanjang perjalanan hari.

Fikiran dan perasaan sang ibu, dia bak antena yang mengalirkan gelombang/sinyal ke sekitar. Saat sinyal yang dipancarkan adalah kebaikan, kebahagiaan, rasa optimis, keyakinan, dan nilai agama, maka demikianlah sinyal tersebut ditangkap dan diterima oleh keluarga kita. Namun bila sinyal yang disebarkan hanyalah berupa keluh-kesah, kekesalan, kemarahan, pertengkaran, caci-maki, menyalahkan orang lain, kemalasan, maka seluruh anggota keluarga akan menerimanya, merasakan akibatnya, dan menyelaraskan sinyal mereka dengannya. Kebaikan dan keburukan adalah sesuatu yang diwariskan, dan peran sang ibu sangat besar di sana.

Maka, tiada cara lain untuk bisa melahirkan anak yang penuh semangat, keluarga yang bahagia selain kita memulai itu semua. Sebarkan jiwa penuh semangat, pantang berkeluh-kesah, penuh optimis, keyakinan yang kuat pada Allah swt, giat bekerja, senang pada kebaikan, dan mencintai ilmu pengetahuan.

Jadilah seorang ibu yang menjadi charger jiwa bagi keluarga. Kelembutannya meneduhkan, kesabarannya menenangkan, dan semangatnya menggelorakan semangat berjuang.


Dr A’id Abdullah al-Qarni mengatakan semangat adalah hati yang penuh gairah, jiwa yang penuh rindu, dan cita-cita yang tinggi. Ia mampu membawa pemiliknya mengembara walaupun dia sedang tinggal di rumah, dan membawanya berjalan-jalan walaupun ia sedang diam.

Semua manusia sama saja rupa, daging, dan darahnya. Satu-satunya yang membedakan mereka adalah semangat, sehingga salah seorang di antara mereka ada yang setara dengan seribu manusia.

Seorang ahli hikmah mengatakan, “Nilai kekuatan manusia terletak pada semangatnya, bukan pada jumlah harta yang dimilikinya.

Easy going
Hadits riwayat Anas bin Malik ra, ia berkata Rasulullah saw bersabda, “Permudahlah dan jangan mempersulit, dan jadikan suasana yang tenteram, jangan menakut-nakuti. “ (HR. Muslim, No. 3264)

Tak selamanya hari berjalan seperti apa yang kita harapkan. Adakalanya segala sesuatunya dirasa mudah, namun seringkali juga kita dihadapkan pada kondisi sulit. Pilihannya hanya dua: kita berkeluh menyalahkan keadaan, atau memilih jalan untuk mau belajar menyesuaikan diri.

Contoh:
Bila dulu membuat sayur sop bisa dengan daging ayam dan sekarang tidak, rasanya kenikmatan sayur sop tidak akan berkurang walau daging ayam ditiadakan.
Bila anak bisa jajan, sesekali jajan berkurang, saatnya untuk  mengajarkan arti bersabar dan berhemat jajan.
Bila dulu ke pasar naik kendaraan, dan sekarang harus berjalan kaki, nikmati saja sebagai bagian untuk menyehatkan dan menurunkan berat badan.
Bila dulu sebulan sekali beli pakaian dan sekarang harus berfikir ulang, mengapa tidak padu padankan saja pakaian di lemari yang sudah menggudang.
Bila dulu peralatan make-up diperhatikan, lengkap dengan perlengkapan perawatannya, dan sekarang itu tak bisa lagi dilakukan, maka carilah cara alternatif lain dengan biaya yang lebih bersahabat dan bisa kembali ke produk herbal. Rasanya tidak tidak akan merugi, justru keuntungan agar wajah agar tidak mudah lelah dengan tempelan bahan-bahan kimia.

Hidup ini pilihan. Mau kita berdamai dengan keadaan atau banyak meratapinya, semua ada di tangan kita. Namun bila kita tidak melekatkan kebahagiaan kehidupan kita dengan naik turunnya keadaan dunia, banyak kebaikan yang datang. Hubungan dengan suami tidak terganggu, keharmonisan rumah tangga tetap terjaga, anak-anak belajar bagian lain dari perjuangan hidup, mengasah kesabaran, menajamkan kepedulian terhadap sesama, wajah awet muda, menebar keceriaan, tidak membebani fikiran dan perasaan berlebih-lebihan, dan semakin terkuatkannya hubungan kita dengan Allah.

Shalihaat, mudah dan berat hanyalah ada pada cara pandang kita atas sesuatu, dan bagaimana kita rela menjalaninya.

Ayooo….masih mau memperberat keadaan? Lebih baik kita permudah segalanya. Easy going is a good choice! Jangan jadikan sikap suka mempersulit keadaan menjadi kebiasaan. Insyaallah, Allah nanti akan mempermudah seluruh urusan kita.

Memperbaharui fikiran dan memperbaiki diri
Nasihat Imam asy-Syafi’i mengatakan:
Apabila kita membutuhkan urusan dunia, carilah dengan ilmu.
Dan apabila kita mengharapkan urusan akhirat, carilah pula dengan  ilmu.

Manusia bagaikan sebuah teko. Dia akan menumpahkan isi sesuai apa yang ada di dalamnya. Bila isinya susu, maka akan keluar air susu. Bila didalamnya air teh, maka itulah yang dikeluarkannya, dst. Artinya bagaimana bentuk sikap dan cara pandang kita terhadap hidup dan kehidupan bergantung banyak pada isi akal fikiran kita. Isi fikiran akan menggiring kita pada makna tertentu dari setiap peristiwan/kejadian yang mampir di kehidupan kita. Bahagia, sengsara, cemas, dan tenangnya kehidupan sangat  bergantung kepada dirinya sendiri.  Dan ilmu memiliki peran besar di sana.

Suatu hari, Nabi saw membesuk seorang Arab Badui yang sedang menderita demam. Beliau menghibur dan membesarkan hati orang tersebut. Beliau berkata, “Semoga penyakitmu ini menjadi penawar dosa. “

Orang Arab Badui tersebut menjawab, “Namun ini demam yang mendidih, menimpa seorang tua yang renta, untuk menyeretnya ke liang kubur.”

Mendengar keluhan orang itu, Nabi   pun berkata, “Kalau begitu, akan demikianlah jadinya. “

Maksudnya, setiap urusan itu tunduk kepada anggapan (persepsi/cara pandang) seseorang. Jika mau, kita bisa menjadikan sakit demam tersebut sebagai pembersih dan kita rela. Atau jika mau, kita pun dapat menjadikannya sebagai kebinasaan dan kita marah.

Nabi saw bersabda, “Barangsiapa rela, maka baginyalah kerelaan, dan barangsiapa benci, maka baginyalah kebencian. “ (HR. at-Tirmidzi)

Nilai suatu pekerjaan -termasuk pekerjaan sebagai ibu rumah tangga- bahkan nilai si pekerja itu sendiri sangat berkaitan erat dengan fikiran yang berputar di otak dan perasaan yang berkecamuk di dalam jiwa. Dale carnegie berkata, “Sebenarnya fikiran kitalah yang membentuk pribadi kita. Dan arahan fikiran kita adalah faktor utama yang menentukan perjalanan hidup kita. “

Shalihaat, semakin kompleks dan rumitnya masalah hidup, tak cukup diatasi hanya berbekal pengalaman yang minim dengan ilmu yang seadanya. Ilmu bagi manusia seumpama sebuah peta, penunjuk arah kemana arah jalan hidup yang mesti kita ambil, yang bisa memetakan bagaimana kita bisa berfikira near –setidaknya menuju kea rah sana. Tanpa peta ilmu, bisa dipastikan kita akan tersesat, dan berputar-putar di tempat masalah tanpa tahu apa yang harus diperbuat, dan tak tahu arah tujuan.

Maka bila kita harapkan hidup selamat bahagia dunia akhirat, kuncinya tiada lain:milikilah ilmu. Karena ilmu menjawab semua kebutuhan manusia, solusi atas setiap persoalan hidup. Ilmu dapat merobohkan benteng kebodohan dan kunci pembuka istana kebahagiaan.

Jadikan rumahku surgaku
Profesi sebagai ibu rumah tangga adalah sebuah profesi yang teramat mulya bagi seorang perempuan. Ustadzah Ummi Pipik Dian Irawati mengatakan, “Menjadi ibu rumah tangga adalah sedekah yang abadi. Tidak ada yang bisa mengalahkan sedekah seorang ibu rumah tangga. Ia mengurus anak dan keluarganya dalam satu hari 24 jam, setiap hari, sepanjang tahun, bahkan tiada hari libur. “

Demikianlah, profesi ini dalam setiap aktifitasnya berpeluang besar menghadirkan runtuyan pahala besar atasnya. Mengapa? Karena urusan rumah adalah ladang jihad terbesarnya seorang perempuan.

Menurut Ibnu Faris dalam bukunya Mu’jam al-Maqayis fi al-Lughah, semua kata yang terdiri dari huruf  j-h-d, pada awalnya mengandung arti kesulitan, kesukaran, dan yang mirip dengannya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dancarilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya supaya kamu mendapat keberuntungan. “ (QS. al-Maidah [5]: 35)

Disini dapat dilihat bahwa makna jihad adalah sebuah perjuangan berat yang harus ditempuh. Ada kerja keras, kesungguhan, keletihan, kelelahan, pengorbanan. Bila tidak demikian, mana mungkin seorang Fatimah -putri Rasulullah saw- meminta ayahnya untuk menyediakan seorang khadimah baginya, yang kemudian dijawab oleh Rasulullah saw dengan nasihat untuk berdzikir sebagai penyejuk jiwa, pelepas kepenatan, penghibur di kala suntuk datang.

Menyadari  bahwa di rumahlah pahala yang diharapkan bisa diraih, dan surga yang dirindukan itu bisa datang, masihkah kita mengumbar keluh atas lelahnya atau mengemas kelelahan dengan rasa kebahagiaan?


Bahagia tidaknya, merasa bangga tidaknya atas profesi sebagai ibu dengan pekerjaan rumah tangganya  hanya terletak pada cara pandang kita atas sesuatu. Hanya tinggal menggeser sedikit cara pandang, kita bisa menswitch perasaan kita dari berkeluh menjadi bahagia, dari tak pede menjadi bangga. Karena cinta dengan peran sebagai ibu rumah tangga itu adalah sebuah cinta yang tidak memaksa, namun senantiasa berusaha melakukan seluruh tugas dan tanggung jawab sepenuh jiwa.

Memperbaiki hubungan dengan Allah
Sebanyak apapun ilmu yang kita punya, semampu apapun kita mengerjakan sesuatu, tetap berpagarkan keterbatasan. Seluruh perasaan positif: bahagia, senang, lapang dada, semangat, dll hanyalah Allah-lah pemiliknya. Hadirnya kesadaran buah dari pencerahan atas betapa mulyanya peran sebagai seorang ibu rumah tangga pun hanya Allah yang mampu memunculkannya. Manusia, makhluk yang serba terbatas. Dalam keterbatasan inilah kita membutuhkan yang Maha Tak Terbatas untuk memberikan pertolongan, mengulurkan kasih sayang, mencenderungkan hati pada kebaikan, sehingga memiliki keyakinan penuh serta pengharapan yang besar atas  kehidupan.

Tiada kenikmatan yang tak terhingga selain hidup merasa dekat dengan Allah. Menjadikan Allah sebagai pusat dari seluruh aktifitas kita. Menjadikan Allah sebagai alasan terbesar kita melakukan sesuatu. Menjadikan Allah satu-satunya sandaran terkuat kita dalam memenuhi seluruh hajat hidup di dunia dan di akhirat.

Apapun apabila Allah menjadi tujuan terbesar, hidup akan jauh lebih bermakna, jauh  lebih bahagia, dan arah tujuan hidup yang pasti.

Managemen waktu yang seimbang
Hidup bahagia itu ada dalam hidup yang berdinamika. Beragam bin berwarna. Tidak terikat oleh satu dua pekerjaan saja dan melalaikan kebutuhan kita yang lainnya. Coba kita perhatikan gerakan shalat. Ada takbiratul ihram, rukuk, sujud, tahiyyat, dan salam yang ke semuanya mampu menggerakkan hingga 360 sendi tulang badan kita. Bacaan setiap gerakan pun berbeda-beda. Ada bacaan pendek seperti dzikir, ada yang panjang beruntai doa. Sikap tumaninah menjadi jeda bagi kesegaran jiwa, mengembalikan tubuh pada posisi sempurna, sebelum beralih pada gerakan berikutnya.

Subhanallah, tidakkah kita perhatikan bahwa Allah melalui tata cara shalat sebenarnya mengajarkan kita banyak hal tentang keseimbangan kehidupan. Jangan terpaku hanya pada satu urusan, tapi seimbangkanlah dengan hal lainnya. Semua tahu bagaimana kesibukan di rumah menguras banyak waktu seorang ibu. Namun, sebenarnya selalu ada celah waktu untuk kita manfaatkan  bagi  kegiatan lainnya, misalnya berolahraga, memperhatikan perawatan tubuh, menghadiri majelis ilmu, menyalurkan hobby, atau sekedar menghirup udara segar di luar rumah. Kegiatan yang berwarna memberi energi tersendiri, menyegarkan fikiran, dan melapangkan dada.

Buat dan atur jadwal kegiatan sehari-hari sedemikian rupa hingga tidak berbenturan dengan tugas utama kita sebagai seorang ibu. Membawa serta buah hatipun tidak ada salahnya. Apalagi bagi yang tidak memiliki khadimah di rumah. Pertama kali merepotkan...wajarlah. Namanya juga anak. Tapi, seiring bertambah usia mereka, tingkat kerepotan akan berkurang banyak.

Me Time
Psikolog Elizabeth Santosa, M.Psi. mengatakan bahwa me time adalah saat dimana individu melakukan self care (merawat diri) secara fisik maupun psikis. Me time merupakan kebutuhan dasar setiap manusia. Jadi, setiap individu dewasa yang jarang memberi waktu untuk diri sendiri melakukan me time justru lebih rentan menderita stres kronis yang berakibat pada gangguan kesehatan dan depresi.

Me time sangat bermanfaat meningkatkan produktivitas kerja karena memberikan efek ‘segar’ (refresh). Hal ini juga dapat memberikan kualitas tidur yang baik, mengurangi rasa cemas berlebihan, serta membuat individu menjadi pribadi lebih menyenangkan sebagai istri, suami dan orangtua bagi keluarga serta teman. Idealnya, seorang istri dapat melakukan me time setiap hari walau sebentar. Selama setengah sampai satu jam.

Manfaat me time:
~ Istirahat sejenak dari rutinitas
~ Booster semangat baru dan kepercayaan diri
~ Meningkatkan mood
~ Menghalau rasa jenuh dan stress

Cara setiap ibu mengisi saat me time berbeda satu sama lain. Beberapa kegiatan yang biasanya dilakukan antara lain:
~ Melakukan perawatan diri, baik dilakukan di rumah ataupun pergi ke salon kecantikan
~ Tadarus al-Qur’an
~ Membaca buku-buku menarik
~ Berkebun
~ Makan-makan di luar
~ Jalan-jalan
~ Menulis
~ Mendengarkan lagu

Sekalipun me time kita butuhkan, namun jangan sampai jadi salah kaprah,  misalnya:
~ Menjauh dan meninggalkan tugas dan kewajiban
~ Pergi ke tempat yang lebih banyak mudharatnya
~ Berboros-boros
~ Pergi ke tempat yang jauh dalam waktu yang lama
~ Meninggalkan anak tanpa pengawasan/pendampingan

Memperhatikan penampilan diri

Shalihaat, boleh jadi dugaan ini salah, namun saya berpendapat bahwa tanda seorang ibu/istri yang bahagia itu adalah terlihat dari pancaran  wajah dan penampilan dirinya. Siapapun yang bahagia dengan kehidupannya, dan menghargai dirinya pasti dia akan peduli dengan penampilannya. Kesibukan di rumah tidak menjadi alasan untuknya berdandan seadanya, berdasterkan baju kebesaran.

Lakukan perawatan tubuh disesuaikan dengan kemampuan diri masing-masing. Mampu ke salon, Lakukanlah. Di saat keadaan tidak memungkinkan sekalipun, perawatan masih bisa kita lakukan di rumah. Banyak cara perawatan alami yang informasinya mudah kita temukan melalui media internet. Tinggal klik, semua info yang kita butuhkan ada disana.

Tidak ada alasan untuk mengatakan tidak tahu, karena ilmu telah terbentang di hadapan kita. Tidak ada alasan untuk tidak ada waktu, karena sebenarnya kitalah sang pengatur waktu itu sendiri. 

Mari kita sampaikan pesan kepada dunia dan teladan baik bagi buah hati di rumah bahwa menjadi menjaga diri bersih, cantik dan terawat adalah bentuk rasa bangga dan bahagia kita sebagai seorang ibu rumah tangga. 
Share:

LAGU TANPA SATU NADA



Ku susun balok not sekian lama
Kujaga agar tak ada yang terlupa
Harapan...nada indah akan terlahir di sana
Kulupa...ada satu nada yang tak ada
Dan itu merusak irama yang seharusnya tercipta

Harapku kini hilang
Haruskah kurobek lembaran itu
Dan kuganti dengan lembaran lainnya
Agar lagu lain tercipta disana?!

Bila Tuhan mencipta banyak nada mempesona dari alam
Akan kupinjam satu saja
Dari sejuknya desiran angin,
Dari damainya gemerisik dedaunan
Dan indahnya gerimis hujan

Baiklah...
Lembaran itu tak akan kurobek
Biarlah menjadi kenangan bagian perjalanan pencarian
Sebuah lagu yang tak pernah selesai
Lagu perjuangan yang hilang satu nada

Share:

MELEPASKAN DIRI DARI KEMELEKATAN


Mengenal istilah “kemelekatan” ketika bergabung dalam sebuah Kelas Parenting Komunitas Peduli Potensi Anak Indonesia (KP2AI). Kata yang unik dan jarang digunakan oleh hampir sebagian besar orang.

Kemelekatan adalah sikap memberikan penilaian yang berlebihan pada suatu objek atau orang kemudian menempel padanya. Dengan kata lain kita membayangkan kualitas yang sebenarnya tidak dimiliki pada orang dan benda-benda, atau melebih-lebihkan yang mereka miliki. Kemelekatan memiliki pandangan yang tidak realistis sehingga mengakibatkan kebingungan.

Istilah kemelekatan ini sering digunakan oleh kaum Buddhis untuk menggambarkan kondisi pikiran yang terikat erat kepada suatu objek yang disenangi atau dibenci. Kemelekatan ini bersinonim dengan ketergantungan. Padanan istilah “kemelakatan” ini dalam Islam adalah hubbudunya, yaitu cinta dunia, yang merupakan salah satu dari penyakit hati. Penyakit inilah yang dapat membuat seorang manusia menjadi lemah.

Rasulullah saw bersabda, ”Dapat diperkirakan bahwa kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang tersebut melahap isi mangkuk”.

Para sahabat bertanya, ”Apakah jumlah kami saat itu sedikit, ya Rasulullah?”

Rasulullah menjawab, ”Tidak, bahkan saat itu jumlahmu amat banyak, tetapi seperti air buih di dalam air bah karena kamu tertimpa penyakit ‘wahn’.

Para sahabat bertanya, “Apakah penyakit ‘wahn’ itu, ya Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Penyakit ‘wahn’ itu adalah kecintaan yang amat sangat kepada dunia dan takut akan kematian.”

Dan Rasulullah berkata, “Cinta dunia merupakan sumber utama segala kesalahan.”

Dalam riwayat yang lain Rasulullah bersabda, “Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri kalian. Akan tetapi, aku khawatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana ia dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka hancur.” (HR Bukhari-Muslim).

Seseorang bisa berada dalam kondisi kemelekatan ketika dia melekatkan dirinya pada objek tertentu, peristiwa tertentu, atau seseorang. Wujudnya bisa ketergantungan yang kuat, harapan yang tinggi, atau bersikap berlebih-lebihan dalam memandang atau menilai sesuatu. Sikap realistisnya mengabur. Dia sangkakan sesuatu akan didapatkan sesuai perkiraan, atau  berlaku sesuai bayangan. Namun saat apa yang diharapkan tidak terjadi barulah dia tersadar bahwa anggapan dia selama ini salah. Kemudian kecewalah dia. Itulah mengapa kondisi kemelakatan akan menarik diri seseorang masuk ke dalam pusaran masalah, terjebak disana, dan tersesat tak tahu arah jalan keluar.

Apa yang harus dilakukan agar diri kita terbebas dari kondisi kemelekatan? Beberapa langkah ini  semoga bisa membantu.

Jangan menilai secara berlebihan
Allah sempurna adalah sebuah kepastian, dan urusan dunia memiliki keterbatasan adalah sebuah keniscayaan. Maka janganlah kita menilai berlebih-lebihan atas sesuatu di dunia ini. Di dunia sesuatu ada dan berlangsung tidaklah sesempurna yang kita kira. Sebagaimana Allah menciptakan alam semesta dengan berpasangan, maka sadarilah bahwa sesuatu di dunia ini hadir dengan dua keadaan yang melekat padanya: kelebihan-kekurangan, kebaikan-keburukan, dll.

Penilaian yang berlebihan kerapkali membuat daya nalar seseorang  tidak bekerja. Baginya yang dikagumi seolah sempurna tanpa cacat. Padahal dalam sosok yang dikagumi terdapat kekurangan-kekurangan. Maka kagumilah pada hal baik yang ada padanya, dan perlakukan hal lain sama dengan yang lainnya. Jadi ketika kekurangan itu nampak di hadapan, kita tahu bagaimana harus bersikap. Ketika kelemahan ada, hati kita tidak tergerus rasa olehnya.

Dr A’id Abdullah al-Qarni dalam bukunya “Silahkan Terpesona” mengatakan sikap ridha adalah pengusir kegelisahan, kecemasan, dan kesedihan. Obat keraguan, kebingungan, dan kebimbangan. Karena ia adalah kepasrahan terhadap hikmah, pembenaran terhadap syari’at, ketundukkan kepada kelembutan Allah, dan keyakinan akan baiknya pilihan Allah. Orang yang memasuki rumah keridhaan akan aman. Orang yang menghadap kabah keridhaan akan bahagia. Dan orang yang shalat di mihrab keridhaan akan bijaksana, penuh pengharapan akan ampunan Allah, dan selalu bertaubat.

Jangan jadikan dunia sebagai tujuan
Wajah dunia selalu tampak memesona. Daya tariknya kuat luar biasa. Tak heran, apabila banyak orang berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Segala macam cara dilakukan, bahkan yang harampun sudah tidak dihiraukan.

Dunia dianggap sebagai bagian terbesar untuk mendapatkan kebahagiaan. Bisa dipahami, karena memang tidak bisa dipungkiri melalui dunialah segala kebutuhan, aneka ragam keinginan dapat terpenuhi. Sayangnya, tidak banyak diantara kita yang menyadari bahwa dunia pun adalah fitnah terbesar bagi seseorang. Karena dunia, hubungan kekerabatan bisa renggang, sikap hormat anak pada orangtua bisa hilang, suami-istri bercerai, keadilan tidak dapat ditegakkan, kemuliaan seseorang digadaikan, terjadi kesewenang-wenangan, pembunuhan, dll. Betapa, dunia bisa membeli nilai-nilai baik yang ada pada diri manusia dan menggantinya dengan sesuatu yang buruk. Itulah mengapa, Rasulullah saw mengumpamakan dunia sebagai sesuatu yang rendah, hina dan  tidak ada harganya sama sekali.

Pada suatu hari Rasulullah saw memasuki sebuah pasar bersama orang-orang di sekitarnya. Kemudian beliau melewati bangkai anak kambing yang telinganya kecil. Lalu beliau memegang telinga kambing itu sambil berkata, “Siapa di antara kalian yang berani membeli ini seharga  satu dirham?”

Mereka berkata, “Kami sama sekali tidak menyukainya. Dan apa yang bisa kami lakukan dengan bangkai anak kambing itu?”

Rasulullah saw berkata lagi, “Siapa yang mau jika ini diberikan secara cuma-cuma?”
Mereka menjawab, “Demi Allah, jika hidup saja ia memiliki telinga yang kecil, apalagi setelah menjadi bangkai?!”

Mendengar hal itu, Rasulullah saw berkata dengan sedikit jengkel, “Demi Allah, dunia lebih hina di sisi Allah daripada bangkai kambing ini. “

Demikianlah, Rasulullah saw memberikan perumpamaan yang begitu jelas pada kita tentang nilai dunia. Tidak selayaknyalah apabila kita melekatkan diri kuat-kuat pada dunia. Adanya membuat kita bahagia, hidup penuh semangat, dan tiadanya hidup seakan menderita dan kehilangan gairah.

Lepaskan diri dari kemelekatan atas dunia. Jadikan dunia hanya sebatas sarana kita untuk bertahan hidup dan beribadah. Bukan tujuan. Sedikit banyak itu relatif, kaya-miskin itu hanya sangkaan, karena hakikat kekayaan (dunia) itu bukan pada apa yang kita miliki, namun pada apa yang telah kita beri bagi sesama.

Rasulullah saw bersabda, “Kekayaan itu bukanlah terletak pada banyaknya harta, akan tetapi ada pada kekayaan jiwa. “

Dunia bukan jaminan kebahagiaan dan ketenangan hidup. Lantas alasan apa yang menyebabkan setiap orang rela menggadaikan kehidupannya pada sesuatu yang sama sekali tidak bisa menjamin kebahagiaan dan ketenangan hidupnya?

Melalui bukunya “Silahkan Terpesona” Dr A’id Abdullah al-Qarni mengatakan manusia yang cerdik tidak akan menjadikan dunia sebagai tempat menetap,melainkan hanya sebagai persinggahan,membekali diri padanya dengan amalan-amalan shalih. Tidak bersedih hati karena kekurangannya, dan tidak menyesal karena tidak mendapatkannya.  Hanya mengambil secukupnya dari perbendaharaannya dan merasa puas dengan yang sedikit darinya.

Bergantung hanya semata kepada Allah
Tiada sebaik-baik tempat untuk bersandar memohon perlindungan, meminta pertolongan kecuali Allah swt. Dia tak terlihat, namun keberadaan-Nya dapat kita rasakan dalam setiap desah nafas kita. Tiada kehidupan yang terjadi kecuali atas ijin-Nya. Tiada hal yang mempu kita raih kecuali atas kehendak-Nya. Manusia lain atau apapun itu yang menjadikan harapan terkabulkan hanyalah sebagai wasilah (jalan) bagi Allah untuk memudahkan urusan kita. Maka atas setiap apapun hajat hidup kita, gantungkanlah hanya pada Allah semata.

Berharap banyak pada sesama, kita akan kecewa. Terlalu percaya pada makhluk-Nya, kita pun akan terpedaya. Sedangkan Allah, dalam setiap ketetapan takdir-Nya  bagi kita selalu memberikan yang terbaik yang tidak hanya bagi kehidupan kita di dunia,namun juga untuk kehidupan kita di akhirat.

Allah yang menciptakan kita. Allah pula yang mengurus dan memberikan rejeki pada kita, maka hanya Allah sajalah yang paling Maha Mengetahui apa yang terbaik atas setiap urusan kita. Jadikan Allah sebagai hanya satu-satunya tempat bergantung, dan tempat kita melekatkan diri pada-Nya. Insyaallah, tiada urusan dunia yang dirasa berat, kecuali semua akan terasa ringan karena kita yakin Allah akan selalu menolong kita. Kapanpun dan dimanapun.
                                                                                     
Jadikan diri sebagai subyek/pelaku dalam kehidupan, dan bukan sebagai obyek/peran pembantu
Dalam “teater besar kehidupan”, setiap orang menjadi pemeran utama dalam kehidupannya masing-masing. Saya adalah tokoh utama dalam kehidupan saya, dan orang-orang di sekeliling sebagai tokoh pembantu. Namun dalam kehidupan mereka, justru sayalah yang duduk sebagai pemeran pembantu dan merekalah pemeran utamanya . Demikianlah seterusnya. Masing-masing orang memerankan peranannya di kehidupan seperti apa yang mereka inginkan.

Dalam berlakon di “teater kehidupan” seseorang dapat memposisikan diri sebagai subyek ataupun obyek. Sebagai subyek maka dia akan mengendalikan sepenuhnya kehidupannya, bertanggung jawab atas fikiran, dan pandai mengelola perasaannya. Apapun sikap, perbuatan, dan perkataan orang lain tidak dibiarkan mempengaruhi banyak kehidupannya. Dia memahami betul bahwa setiap perbuatan baik ataupun buruk pada akhirnya semua akan kembali kepada sang pelaku.   Maka sikap yang akan dimunculkan adalah responsif, menanggapi sesuatu dengan sikap yang tepat dan tidak terbawa emosi. Sedangkan memposisikan diri sebagai obyek, maka sesuatu yang terjadi di luar dirinya akan dimaknai sebagai ancaman yang membuat dirinya menderita, sedih, dan merana. Kondisi emosinya cepat berubah, mudah terpancing, dan berfikiran negatif.

Ada sebuah pencerahan bagus dari Dr A’id Abdullah al-Qarni yang mengatakan jangan lekas percaya dengan pujian manusia dan cepat takut dengan  cercaan mereka. Sebab pujian maupun cercaan dari orang lain bisa berubah-ubah setiap saat tergantung kepada kepentingan masing-masing mereka terhadap Anda. Yang penting, Anda harus bekerja keras, otonom (pen. menjadi subyek dalam kehidupan), utuh, dan teguh hati. Abaikan orang lain karena bagaimanapun kelak mereka akan mengakui kinerja Anda itu.

Bergaullah dengan mereka dengan baik, namun simpan kepercayaan Anda hanya pada Allah.

Fokus pada kebaikan
Berbuat baiklah, kendati tak semua orang berterimakasih, namun terus lakukanlah.
Berusahalah, sekalipun tak selalu berhasil seperti harapan, namun terus lakukanlah
Berkaryalah, walau tak selamanya diapresiasi baik, namun terus lakukanlah
Permudahlah urusan orang lain, walau tak semua membalas sepertimu, namun terus lakukanlah
Bersikap jujurlah, walau kebohongan terdapat di sekitarmu, tetap pertahankanlah

Teruslah berjalan ke depan dan fokuslah melakukan kebaikan. Abaikan setiap cibiran, komentar, dan penilaian yang melemahkan kita. Jangan mengeruhkan fikiran, memberatkan perasaan dan membayangkan imajinasi-imajinasi buruk di benak kita. Dr A’id Abdullah al-Qarni memberi nasihat bagaimana hidup kita dapat tenang jika selalu mengingat luka-luka di masa lalu, menerka-nerka musibah di masa depan, tersakiti oleh kata-kata yang keji yang diucapkan oleh si pendengki, mendendam kepada para perampas haknya, memarahi anak yang melawan kehendaknya, sedih karena harta yang hilang, was-was karena penyakit, dan terus-menerus menambah deretan musibah dan kesedihannya.

Shalihaat, berfokus pada kebaikan memberikan  ruang gerak yang bebas dan luas, melapangkan dada untuk kita dapat hidup berdaya guna, bermanfaat,  sekalipun boleh jadi luput dari perhatian orang-orang sekitar atau bahkan dianggap biasa. Namun sadarilah, setiap pekerjaan sesederhana apapun itu, saat Allah-lah alasan kita melakukannya, maka tak ada lagi yang kecil di hadapan-Nya.
Wallahu’alam bishshawab.

*****
Referensi:
“Silahkan Terpesona, Dr A’id Abdullah al-Qarni, Sahara publisher, 2004

Materi Parenting Teori “Kemelekatan” Komunitas Peduli Potensi Anak Indonesia (KP2AI)
Share:

Popular

Pengunjung saat ini

Ruang Siar

Label

Label Cloud