BAHAGIA SEBAGAI IBU RUMAH TANGGA



Cara Pandang Mempengaruhi Sikap Atas Pekerjaan
Pengalaman mengatakan:  tak ada profesi yang penuh dengan perjuangan selain menjadi seorang ibu rumah tangga. Sebuah pekerjaan yang tak mengenal jam kerja, hari libur, dan penghasilan. Pekerjaan yang minim penghargaan, namun penuh tuntutan dan memerlukan skill serta kecerdasan. Bermental baja, berdaya juang tinggi adalah prasyarat lainnya. Mau menambah ilmu, serta bersedia belajar dari kesalahan adalah bagian dari kemauan yang harus dimiliki karena pekerjaan ini  beresiko terkena jenuh tingkat tinggi.  Bagaimana tidak…..hampir setiap hari kita berada di tempat yang sama, dengan pekerjaan yang sama pula. Bila tugas tak dikerjakan, maka berantakanlah semua hal seharian. Pencapaian akhirnya adalah menjadikan keluarga sakinah ma waddah wa rahmah dan anak-anak yang shalih/ah. Dan untuk menuju kesana bukan dengan sekali jentik jari dan bilang “simsalabim”. Target akhir yang besar memerlukan perjuangan waktu yang panjang.

Oleh karena itulah mengapa seringkali pekerjaan ini dirasa sangat tidak menyenangkan. Pekerjaan seharian berkutat di rumah dengan bumbu kejenuhan yang kerap datang. Alhasil, sang ibu pun tidak bahagia dengan apa yang ada di hadapan. Semua serba salah.

Saya jadi teringat dengan cerita seorang ibu yang mengatakan bahwa dia bisa lembur kerja di kantor hingga malam, dan dia happy. Namun, saat dihadapkan pada pekerjaan rumah tangga, baru juga sebagian dikerjakan, rasa lelah sudah melanda.

Tapi di lain kesempatan, pernah juga bertemu dengan seorang ibu yang terlihat baik-baik saja dengan urusan rumah tangganya, padahal suaminya sakit, dan dia pun memiliki aktivitas lain di luar rumah. Setiap kali ditanya, apakah pekerjaannya: pasti dia akan mengatakan: saya seorang ibu rumah tangga. Tak kentara di wajahnya rasa malu atau ketidakpedean. Justru keadaan terbalik. Yang bertanya merasa tidak percaya dan mengatakan: Ibu rumah tangga yang punya perusahaan dimana-mana, ya Bu?!

Dua kejadian pada hal yang sama memberikan pelajaran bagi kita, bagaimana cara pandang kita atas pekerjaan yang dilakukan, apapun itu profesinya (termasuk sebagai seorang ibu rumah tangga), ternyata berpengaruh banyak pada kehidupannya:
1. Sikap penghargaan atas pekerjaan
2. Perasaan bahagia

Menjadi Bahagia
Tidak ada pekerjaan yang salah sepanjang itu halal. Yang bermasalah barangkali cara pandang kita terhadap pekerjaan yang dikerjakan. Menilai suatu pekerjaan hanya semata dari sisi profit, pasti ujung-ujungnya akan pilih-pilih pekerjaan. Gengsi diperbesar. Semangat terkatrol oleh ada tidaknya keuntungan. Gaji besar  bahagia, gaji kecil, bekerja seadanya.

Ini dia letak masalahnya, bila dunia menjadi tujuan. Semua menjadi serba hitung-hitungan. Untung-rugi telik dikalkulasikan. Padahal kita semua tahu, hidup tak hanya sampai disini, namun akan berlanjut hingga akhir nanti. Karena itulah, nilai ibadah harus kita masukkan menjadi bagian utama setiap pekerjaan. Termasuk profesi sebagai ibu rumah tangga.

Bekerja di kantor itu sebenarnya melelahkan. Namun mengapa kita mau melakukan itu? Karena kita tahu, ada gaji yang diharapkan setiap awal bulan.
Bekerja siang malam banting tulang itu menyita banyak perhatian, dan menguras tenaga. Tapi mengapa kita rela bekerja sedemikian? Karena kita tahu, ada promosi jabatan yang sedang ditawarkan.

Demikian pula halnya sebenarnya dengan urusan pekerjaan rumah tangga bisa jadi menyenangkan, asal kita memiliki tujuan yang benar. Bila selama ini tak ada semangat, atau minimal melakukan dengan seadanya, boleh jadi dikarenakan kita tidak memiliki tujuan ‘emas’. Kita tidak tahu, ada gaji berupa pahala (berbonus pula) yang Allah sediakan, dan juga ada promosi menuju surga yang Allah tawarkan. Catatan perjuangan dan kerja keras dalam pekerjaan rumah tangga begitu mendetil, dan lengkap. Hitungan ganjarannya jelas, bahkan seringkali Allah lipatgandakan dengan rahmat-Nya. Adakah manusia hebat yang biasa melakukan pencatatan demikian terinci hingga tak ada yang terlewati?! Yang royal dalam memberikan gaji?! Tak akan pernah ada.

Jadi bila….
Menyapu lantai itu melelahkan, semua orang tahu itu. Itu akan berubah menyenangkan bila ganjaran Allah jadi tujuan.
Mencuci itu memberatkan, semua orang tahu itu. Itu akan berubah menyenangkan bila akhirat jadi kejaran.
Memasak itu makan hati, apalagi bila tidak dicicipi. Tapi tetap akan menyenangkan bila ridha Allah yang dinanti.

Pada akhirnya, kesadaran mengingatkan bahwa:
Sepanjang kita tahu ilmunya, pasti tujuannya….tidak ada pekerjaan yang tidak menyenangkan. Demikian pula dengan pekerjaan sebagai seorang IBU RUMAH TANGGA.
Share:

CINTA BERPAYUNG IMAN



Cinta itu indah. Seindah Tuhan menciptakan pelangi, dan sekaya bumi. Menaungi alam raya dengan kelembutan kasihnya dan mengokohkan dasar bumi dengan  kekuatan sayangnya.

Tak ada yang nampak kurang dalam pandangan kala cinta sudah menyapa. Cinta menjadikannya begitu sempurna. Keindahan berwujud dalam setiap sisi. Lapang-sempit, mudah-sulit, buruk-baik, galau-damai. Tak ada beda, tak ada cela.

Cinta membuat keyakinan tak pernah luntur, prasangka baik tak pernah pudar.
Apa yang diberikan, itulah karunia kenikmatan. Apa yang luput dari genggaman, itulah karunia keselamatan. Kadang kealpaan membuat kadar cinta berkurang, namun dia tak pernah sampai membuat cinta hilang. 

Pijakan kaki di bumi kuat dilangkahkan, itu karena cinta.
Suara lantang disampaikan, itu karena cinta.
Perjuangan penuh semangat dikobarkan, itu karena cinta.
Onak duri berhasil dilewati pun, itu adalah buah cinta.

Cinta, penguat bagi si lemah, dan opor keberanian bagi sang pejuang kebenaran.
Demikianlah cinta bila terpayungi keindahan Sang Pemberi Cinta.

Cinta hilang, pudar sudah keindahan. Hilang pula kedamaian. Bumi dirusakkan, norma diabaikan. Pandangan tersilaukan, perasaan dimabukkan. Arah hidup tak tentu tujuan. Seperti sedang menuju pulau harapan, padahal fatamorgana yang selalu jadi acuan.  Seperti kuat, padahal dia lemah. Seperti berani, padahal menyimpan cemas hati.

 Jangan sampai cinta hilang, karena itu akan membutakan pandangan, menumpulkan akal, cahaya hati padam, dan hidup pun penuh dengan kegelapan.  Karena cinta adalah busur arah kehidupan yang akan tepat membawa kita menuju sasaran kebahagiaan di Kampung Keabadian.
Share:

DUA KEELOKAN


*Keindahan Bidadari Surga*

Allah swt berfirman, “Di dalam surga, terdapat bidadari-bidadari yang sopan, yang menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan? Seakan-akan biadadari itu permata yakut dan marjan.” (Qs. Ar-Rahman: 56-58)


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sekiranya salah seorang bidadari surga datang ke dunia, pasti ia akan menyinari langit dan bumi dan memenuhi antara langit dan bumi dengan aroma yang harum semerbak. Sungguh tutup kepala salah seorang wanita surga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Azza wa Jalla berfirman, 'Aku siapkan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas oleh pikiran.' ” (HR. Bukhari dan Muslim)

*Eloknya Wanita Dunia*

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”


Beliau shallallahu’‘alaihi wa sallam menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”

Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”

Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutra, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.’ ” (HR. Ath Thabrani)
Share:

PENDUDUK SURGA PUN MENYESAL DI AKHIRAT

Imam Thabrani dalam Hadis Hasan Shahihnya pernah menulis sepenggal kisah tentang surga. Surga digambarkan mempunyai tingkatan-tingkatan yang luasnya seluas langit dan bumi.

Suatu kali, setetes minyak harum dari seorang penduduk surga yang berada di atas jatuh menetes ke surga yang ada di bawahnya. Kejadian itu menghebohkan seisi surga yang ada di bawah. Pasalnya, aroma harum dari setetes minyak harum tersebut mengalahkan wangi-wangian seisi jagad di surga bawah itu. Penduduk surga yang ada di bawah bertanya-tanya, dari manakah wangi harum itu? Semerbak wangi yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Dijawablah oleh malaikat penjaga surga, aroma yang sangat harum itu berasal dari tetesan minyak wangi dari seorang penduduk surga yang tinggal di atas mereka. Penduduk surga bawah itu pun makin penasaran, apa yang membuat orang tersebut bisa memasuki surga yang ada di atasnya? Betapa mulianya orang itu, hingga ditempatkan di surga yang ada di bagian atas.

Malaikat pun menjawab. Amal ibadah si pemilik parfum itu pada dasarnya sama dengan orang-orang yang ada di surga bagian bawah. "Namun bedanya, si pemilik parfum itu memiliki zikir yang lebih banyak dari engkau sebanyak satu kali. Maka ia pun ditempatkan di surga yang lebih tinggi," lanjut malaikat itu.

Saat itu, penyesalanlah yang meliputi penduduk surga yang di bawah. Mereka menyesal, mengapa sewaktu di dunia mereka menyia-nyiakan waktu. Andaikan saja, mereka mau lebih banyak untuk berzikir dan beribadah, tentu mereka bisa ditempatkan di surga yang lebih tinggi.

Di Akhirat, penyesalan tidak hanya datang dari penghuni neraka saja. Hadis Riwayat Thabrani ini membuktikan, penduduk surga sekalipun akan menyesali diri di dalam surga. Mereka menyesal, mengapa tidak menyibukkan diri dengan ibadah.

Mereka menyesal tidak disibukkan dengan urusan-urusan akhirat, kerja-kerja positif, ibadah, serta hal-hal kebaikan. Mereka beranggapan, mereka telah meremehkan akhirat yang saat itu mereka rasakan betapa besar nilainya.

Hadis ini juga menunjukkan, betapa besar nilai sebuah zikir di hadapan Allah dan mendapat ganjaran yang besar. Dalam hadis lain disebutkan, "Ada dua kalimat yang ringan di lidah, tapi berat timbangannya (di Akhirat). Kalimat itu adalah, 'subhanallahi wabihamdihi' dan subhanallahil 'azhimi'." (HR Bukhari).

(Sumber: Republika)
Share:

NAFSU TERSEMBUNYI



Beberapa pakar sejarah Islam meriwayatkan sebuah kisah menarik. Kisah Ahmad bin Miskin, seorang ulama abad ke-3 Hijriah dari kota Basrah, Irak.

Menuturkan lembaran episode hidupnya, Ahmad bin Miskin bercerita:

Aku pernah diuji dengan kemiskinan pada tahun 219 Hijriyah. Saat itu, aku sama sekali tidak memiliki apapun, sementara aku harus menafkahi seorang istri dan seorang anak. Lilitan hebat rasa lapar terbiasa mengiringi hari-hari kami. Maka aku berazam untuk menjual rumah dan pindah ke tempat lain. Akupun berjalan jalan mencari orang yang bersedia membeli rumahku. Bertemulah aku dengan sahabatku Abu Nashr dan kuceritakan kondisiku. Lantas, dia malah memberiku 2 lembar roti isi manisan dan berkata: "berikan makanan ini kepada keluargamu."

Di tengah perjalanan pulang, aku berpapasan dengan seorang wanita fakir bersama anaknya. Tatapannya jatuh di kedua lembar rotiku. Dengan memelas dia memohon:
"Tuanku, anak yatim ini belum makan, tak kuasa terlalu lama menahan siksa lapar. Tolong beri dia sesuatu yang bisa dia makan. Semoga Allah merahmati Tuan." 

Sementara itu, si anak menatapku polos dengan tatapan yang takkan kulupakan sepanjang hayat. Tatapan matanya menghanyutkan akalku dalam khayalan ukhrowi, seolah-olah surga turun ke bumi, menawarkan dirinya kepada siapapun yang ingin meminangnya, dengan mahar mengenyangkan anak yatim miskin dan ibunya ini.

Tanpa ragu sedetikpun, kuserahkan semua yang ada ditanganku. "Ambillah, beri dia makan", kataku pada si ibu.

Demi Allah, padahal waktu itu tak sepeserpun dinar atau dirham kumiliki. Sementara di rumah, keluargaku sangat membutuhkan makanan itu.
Spontan, si ibu tak kuasa membendung air mata dan si kecilpun tersenyum indah bak purnama. 

Kutinggalkan mereka berdua dan kulanjutkan langkah gontaiku, sementara beban hidup terus bergelayutan dipikiranku. 

Sejenak, kusandarkan tubuh ini di sebuah dinding, sambil terus memikirkan rencanaku menjual rumah. 

Dalam posisi seperti itu, tiba tiba Abu Nashr terbang kegirangan  mendatangiku.
"Hei, Abu Muhammad! Kenapa kau duduk duduk di sini sementara limpahan harta sedang memenuhi rumahmu?", tanyanya.

"Subhanallah....!", jawabku kaget. "Dari mana datangnya?"

"Tadi ada pria datang dari Khurasan. Dia bertanya tanya tentang ayahmu atau siapapun yang punya hubungan kerabat dengannya. Dia membawa berduyun-duyun angkutan barang penuh berisi harta", ujarnya.

"Terus?", tanyaku keheranan.

"Dia itu dahulu saudagar kaya di Bashroh ini. Kawan ayahmu. Dulu ayahmu pernah menitipkan kepadanya harta yang telah ia kumpulkan selama 30 tahun. Lantas dia rugi besar dan bangkrut. Semua hartanya musnah, termasuk harta ayahmu.

Lalu dia lari meninggalkan kota ini menuju Khurasan. Di sana, kondisi ekonominya berangsur-angsur membaik. Bisnisnya melajit sukses. Kesulitan hidupnya perlahan lahan pergi, berganti dengan limpahan kekayaan. 

Lantas dia kembali ke kota ini, ingin meminta maaf dan memohon keikhlasan ayahmu atau keluarganya atas kesalahannya yang lalu. 

Maka sekarang, dia datang membawa seluruh harta hasil keuntungan niaganya yang telah dia kumpulkan selama 30 tahun berbisnis. Dia ingin berikan semuanya kepadamu, berharap ayahmu dan keluarganya berkenan memaafkannya." 

Mengisahkan awal episode baru hidupnya, Ahmad bin Miskin berujar :
"Kalimat puji dan syukur kepada-Nya berdesakan meluncur dari lisanku. Sebagai bentuk syukurku, segera kucari wanita faqir dan anaknya tadi. Aku menyantuni dan menanggung biaya hidup mereka seumur hidup. 

Aku pun terjun di dunia bisnis seraya menyibukkan diri dengan kegiatan sosial, sedekah, santunan dan berbagai bentuk amal salih. Adapun hartaku, dia terus bertambah ruah tanpa berkurang. 

Tanpa sadar, aku merasa takjub dengan amal salihku. Aku merasa, telah mengukir lembaran catatan malaikat dengan hiasan amal kebaikan. Ada semacam harapan pasti dalam diri, bahwa namaku mungkin telah tertulis di sisi Allah dalam daftar orang orang shalih. 

Suatu malam, aku tidur dan bermimpi. Aku lihat, diriku tengah berhadapan dengan hari kiamat. 

Aku juga lihat, manusia bagaikan ombak, bertumpuk dan berbenturan satu sama lain.
Aku juga lihat, badan mereka membesar. Dosa dosa pada hari itu berwujud dan berupa, dan setiap orang memanggul dosa dosa itu masing-masing di punggungnya.
Bahkan aku melihat, ada seorang pendosa yang memanggul di punggungnya beban besar seukuran kota (kota tempat tinggal, pent), isinya hanyalah dosa-dosa dan hal hal yang menghinakan.   

Kemudian, timbangan amal pun ditegakkan, dan tiba giliranku untuk perhitungan amal. 
Seluruh amal burukku ditaruh di salah satu daun timbangan, sedangkan amal baikku di daun timbangan yang lain. Ternyata, amal burukku jauh lebih berat daripada amal baikku.
Tapi ternyata, perhitungan belum selesai. Mereka mulai menaruh satu persatu berbagai jenis amal baik yang pernah kulakukan. 

Namun alangkah ruginya, ternyata dibalik semua amal itu terdapat NAFSU TERSEMBUNYI. Nafsu tersembunyi itu adalah riya, ingin dipuji, merasa bangga dengan amal shalih. Semua itu membuat amalku tak berharga. Lebih buruk lagi, ternyata tidak ada satupun amalku yang lepas dari nafsu nafsu itu. 

Aku putus asa.  Aku yakin aku akan binasa. Aku tidak punya alasan lagi untuk selamat dari siksa neraka. 

Tiba-tiba, aku mendengar suara, "masihkah orang ini punya amal baik?"

"Masih", jawab seseorang. "Masih tersisa ini."

Aku pun penasaran, amal baik apa gerangan yang masih tersisa?  Aku berusaha melihatnya. Ternyata, itu HANYALAH  dua lembar roti isi manisan yang pernah kusedekahkan kepada wanita fakir dan anaknya.

Habis sudah harapanku.Sekarang aku benar benar yakin akan binasa sejadi jadinya.
Bagaimana mungkin dua lembar roti  ini menyelamatkanku, sedangkan dulu aku pernah bersedekah 100 dinar sekali sedekah (100 dinar = +/- 425 gram emas), dan itu tidak berguna sedikit pun. Aku merasa benar benar tertipu habis habisan.

Segera 2 lembar roti itu ditaruh di timbanganku. Tak kusangka, ternyata timbangan kebaikanku bergerak turun sedikit demi sedikit, dan terus bergerak turun sampai sampai lebih berat sedikit dibandingkan timbangan kejelekan.

Tak sampai disitu, tenyata masih ada lagi amal baikku.
Yaitu berupa air mata wanita faqir itu yang mengalir saat aku berikan sedekah. Air mata tak terbendung yang mengalir kala terenyuh akan kebaikanku. Aku, yang kala itu lebih mementingkan dia dan anaknya dibanding keluargaku.

Sungguh tak terbayang, saat air mata itu ditaruh, ternyata timbangan baikku semakin turun dan terus turun. Hingga akhirnya aku mendengar seseorang berkata, "Orang ini telah selamat."
 
Pelajaran hidup yang bisa kita petik:

Shalihaat, adakah terselip dlm hati kita nafsu ingin dilihat hebat oleh org lain pada ibadah-ibadah kita?

Buang sekarang keinginan itu. Biarkan hanya untuk Allah saja. Karena segala sesuatu yang selain karena-Nya hanya tipuan kosong belaka. 

Astaghfirullah....
Semoga kita terhindar dr nafsu yg tersembunyi.
Share:

PAKAIAN KETAKWAAN

Mau berpakaian seminim apapun.....silahkan!
Tidak ada yang larang.
Mau berpenamapilan se-sexy apapun....silahkan!
Tak ada yang keberatan.
Asal....itu dilakukan untuk dan di depan suami sendiri.
Lain itu, pakaian kemuliaanlah yang dikenakan kemana-mana.
Jilbab jangan dilepas, pakaian muslimah tak boleh ditanggalkan. Identitas kita ada disana.

Coba dikit saja aturan agama tak dipakai, jangan salahkan bila iman jadi terkulai.
Apalagi bila pakaian “ciluk ba” jadi busana keseharian.
Kaca iman pun kian buram.
Tak dapat jadi cermin ‘tuk membedakan mana yang benar dan yang salah.
Semua nampak sama, tak ada beda.

Itulah akibat bila rasa malu telah berlalu.
Meninggalkan perempuan dari kemuliaan.
Hingga iman pun tak betah bersemayam pada hati dalam rahmat Tuhan.

Sang iman berkata, “Aku tak sudi datang bila sahabatku, malu enggan bertandang. Adanya, hadirku. Tiadanya, kepergianku. “

Shalihaat....tiadakah sedih kau rasakan apabila demi sepotong pakaian, iman kau abaikan, surga pun kau campakkan?!
Mungkin....mungkin...kau tak hedak bermaksud kesana.
Bagimu, pakaian hanyalah sekedar kesukaan, sekedar mengikuti trend busana kekinian.
Kau merasa iman masih melekat erat sekalipun aurat kau nampakkan.
Shalat masih dijalankan, puasa ditunaikan, zakat dikeluarkan, sedekah tak ketinggalan, haji/umrah pun telah pula dilaksanakan.
Masa gara-gara pakaian “ciluk ba” di keseharian, cahaya iman bisa terabaikan, surga bisa tercampakkan?! Tidakkah itu berlebihan. Lebay kali, aaah......fikirmu.

Shalihaat......mari kita lihat apa yang kau sebut “lebay” dalam kacamata iman:
1.       Perintah berhijab adalah sebuah kewajiban yang seharusnya dipenuhi saat masa akhil baligh tiba.
2.       Adanya perintah kewajiban bermakna adanya pahala bila dilaksanakan dan adanya dosa bila ditanggalkan.
3.        Pahala pengundang kebaikan dan dosa pengundang hukuman.
4.       Pahala penghantar kita ke surga, dan dosa akan membawa kita ke neraka.
5.       Apabila Allah yang langsung memerintahkan, artinya tidak ada pilihan kecuali dilaksanakan.
6.       Ketaatan untuk memenuhi kewajiban adalah bukti nyata keimanan. Keingkaran akan kewajiban bukti nyata bahwa iman telah hilang.
7.       Ketaatan yang tidak dilakukan karena ketidaktahuan maka ampunan-nya terbuka lebar. Namun saat ketaatan tidak dilaksanakan dengan penuh kesadaran, maka murka-Nya sedang kau undang.
8.       Aurat yang kau tebar kemana-mana berpotensi dosa bagi dirimu dan setiap mata yang memandang.
9.       Bilapun kau bisa menjaga hatimu dan fikiranmu, bisakah kau lakukan hal yang sama pada orang yang berhati kotor?!
10.    Kau turut menanggung dosa akibat pandangan sesama yang tak terjaga. Tidakkah kau takut itu?

Allah Mahasempurna dalam menetapkan aturan dan Maha pemberi rahmat dalam memahami kekhilafan setiap insan.
Sambutlah perintah-Nya untuk berhijab dengan dada yang lapang.
Dalam setiap aturan-Nya pastilah Allah tempatkan atasnya berjuta kebaikan.
Keselamatan dan kebahagiaan akan menjadi bagian kehidupan di dunia dan di ‘Kampung Keabadian’ andai perintah ikhlas kita jalankan.

Shalihaat...selagi usia masih dikandung badan, jangan pernah tunda perubahan baik yang hendak kau lakukan.
Mulailah secara perlahan. Tanggalkan pakaian ‘ciluk ba’ penebar dosa, berganti busana pengundang surga.
Semoga rahmat Allah bersama di sepanjang perjalanan. Aamyn.
Share:

Popular

Pengunjung saat ini

Ruang Siar

Label

Label Cloud