KESEIMBANGAN HIDUP



Setiap masa ada saatnya. Karena kehidupan berjalan penuh keseimbangan.
Tidak mungkin hari hujan terus-menerus sepanjang tahun, kecuali masa kemarau penjedanya.
Tidak mungkin hari berkabung terus sepanjang bulan, kecuali kebahagiaan terdapat di dalamnya.

Demikianlah Allah menciptakannya sedemikian, menjaga alam dan kehidupan berjalan saling menyeimbangkan.

Adanya kesedihan menjadikan kita tahu arti kebahagiaan.
Adanya kesulitan menjadikan kita tahu arti kelapangan.
Adanya kehilangan menjadikan kita tahu arti kebersamaan.
Adanya sakit menjadikan kita tahu berartinya kesehatan.
Adanya lelah menjadikan kita tahu artinya waktu luang.

Karenanya…
Saat sedih janganlah berlarut, karena di depan bahagia pasti akan bersambut,
Saat sulit janganlah berkecil hati, karena di depan kemudahan pasti akan menghampiri.

Shalihaat….janji Allah senantiasa benar adanya. Yakinlah itu!
Share:

REJEKI TERBESAR DALAM DUNIA KERJA



REJEKI tak selalu berarti harta. Rejeki dapat berwujud dalam bentuk lain: kesehatan, keluarga, anak-anak yang shalih/ah, teman-teman yang baik, tetangga yang baik, lingkungan kerja/tempat tinggal yang baik, pasangan hidup yang membahagiakan, dll.

Dan juga merupakan rejeki terbesar dalam dunia kerja adalah saat kita bekerjasama dengan orang-orang yang seiring, sejalan, dan setujuan dalam hidup. Bekerja tidak hanya dimaknai sebagai jalan untuk mencari nafkah, namun juga tempat untuk saling mem-baik-kan satu sama lain. Memaknai setiap pemenuhan tugas bukan semata sebagai perintah pimpinan, akan tetapi sebagai bentuk pembelajaran, peningkatan kemampuan, dan pengukur kualitas diri.

Bekerja tidak hanya sebagai jalan untuk pemenuhan kebutuhan,akan tetapi juga bekerja sebagai bagian ibadah bagi kita. Sehingga dalam setiap apapun pekerjaannya, nilai ibadah haruslah terdapat di dalamnya.

Mengawali dengan basmalah dan mengakhiri dengan hamdalah.
Menjaga amanah dan berpegang teguh pada kejujuran.
Saling menghormati dan menjaga satu sama lain.
Saling memahami dan memperkecil perbedaan.
Senang pada kerukunan, dan mencegah banyaknya perselisihan.
Saling mencontoh kebaikan, dan saling mengingatkan pada kebenaran.
Transfer ilmu dan membuka wawasan.
Saling menyemangati dalam pengamalan agama.
Cinta pada kesederhanaan dan tak menyukai sesuatu yang berlebih-lebihan.
Semangat dalam bekerja dan bergairah dalam menyampaikan kebaikan.
Susah-senang dirasa bersama selayaknya pepatah mengatakan ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.
Kesulitan dan masalah tidak dihadapi dengan banyak keluhan, namun dengan keyakinan pada-Nya yang meneguhkan ketegaran dan menambah kekuatan.
Setiap yang diucapkan….itulah kebaikan.
Setiap yang dilakukan….itulah kebenaran.

Tidak mudah mendapati dan bersama orang-orang yang sepemahaman. Orang pintar banyak di luaran. Namun orang yang memiliki nilai hidup amatlah susah didapatkan. Itulah mengapa, rekan kerja atau karyawan adalah bagian dari anugerah terbesar yang Allah berikan pada seorang pimpinan.

Bersyukurlah….haruslah teramat bersyukur….kala kita memperolehnya.

Alhamdulillah!!!
Share:

MATAHARI SANG BUAH HATI



“Mau kemana?”
“Ada keperluan apa?”
“Sama siapa perginya?”
“Hati-hati, ya!”
“Nanti kalau sudah disana, cepet telepon Ibu. “
“Cepat pulang. Maghrib sudah harus ada di rumah. Ingat pesan Ibu, Nak!”

Begitulah IBU kita. Selalu mendetil hingga pada hal kecil. Semua tak luput dari perhatian. Sedikit saja sikap dianggap salah, nasihat pun meluncur deras bercampur sedikit bumbu ‘galak’ khas seorang ibu. Dan sang anakpun memberikan labelling dengan kata  “cerewet”.

Seorang ibu nampaknya memang identik dengan cerewet. Sependiam apapun seorang gadis, ketika telah menjadi seorang ibu, pastilah kecerewetan terpendamnya muncul juga.
Saat bayi menangis…..sang ibulah biasanya yang akan sibuk menenangkan.
Saat sang anak belajar berjalan…..sang ibulah yang biasanya akan sibuk menyemangati.
Saat sang anak belajar berkata…..sang ibulah yang biasanya akan sibuk mengajari.
Saat sang anak mulai tak bisa diam…..sang ibulah yang biasanya akan sibuk mengingatkan.
Saat sang anak mencoba hal yang membahayakan…..sang ibulah yang biasanya akan sibuk memberikan pengarahan.
Saat sang anak protes…..sang ibulah yang biasanya akan sibuk memberikan bimbingan.
Saat sang anak melakukan kesalahan…..sang ibulah yang akan sibuk memberikan teguran.

Itulah sebagian pekerjaan yang menjadi keseharian untuk memastikan sang anak tumbuh dan memiliki sikap sesuai harapan. Harapan yang terdesign dalam doa yang dipanjatkan setiap malam dalam kesunyian:

رَبَّÙ†َا Ù‡َبْ Ù„َÙ†َا Ù…ِÙ†ْ Ø£َزْÙˆَاجِÙ†َا ÙˆَذُرِّÙŠَّاتِÙ†َا Ù‚ُرَّØ©َ Ø£َعْÙŠُÙ†ٍ ÙˆَاجْعَÙ„ْÙ†َا Ù„ِÙ„ْÙ…ُتَّÙ‚ِينَ Ø¥ِÙ…َامًا

“Wahai Rabb kami, karuniakanlah kepada kami dari pasangan-pasangan hidup kami dan anak keturunan kami penyejuk hati dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan [25]: 74)

Kini, masihkah kita mengatakannya cerewet padanya  saat kenyataan mengetuk kesadaran bahwa kecerewetannya itulah yang telah banyak menyelamatkan kehidupan bagi kita, anaknya?! Seandainya Ibu kita diam, akan seperti apa kehidupan?!
Semuanya kering tiada kesejukan.
Semuanya garing tiada kedamaian.
Rumah pun miskin dengan kehangatan.

Cerewetnya Ibu adalah pemenuh jiwa seorang anak. Padanya terdapat banyak kasih sayang, perhatian, dorongan, semangat, bimbingan, pendidikan, harapan, dan doa keselamatan. Didalamnya pula terdapat kecemasan, kekhawatiran, ketakutan akan sesuatu yang bisa membahayakan sang buah hati.

Cerewetnya Ibu, itulah bukti nyata kasih sayang-Nya atas makhluk-Nya.
Karena saat kecerewetan Sang Ibu telah tiada, saat itulah kita akan merasa begitu BERARTI akan  hadirnya.

IBU adalah matahari bagi sang buah hati.
Share:

CURAHAN HATI SEORANG ISTRI



Pujaan hatiku, bisakah kau sedikit turunkan nada suaramu?!
Tak perlu kau lakukan itu hanya untuk menjawab satu pertanyaanku saja.
Pertanyaanku sederhana dan telah cukup bagimu untuk menjawabnya dengan kalimat sederhana pula. Tanpa nada tinggi bertekanan, tanpa pelototan.
Hatiku ciut. Hatiku terluka……tahukah kau akan itu, wahai suamiku?!

Bisakah kau tunjukkan rasa sayangmu dalam setiap perkataanmu?!
Jangan jadikan diam sebagai andalan, dan sekali perkataan menyakitkan.
Tak perlu gombal, tak perlu lebay…cukup ucapkanlah sesuatu yang membuatku tenang, sehingga hari-hari terlewatkan dengan banyak kenyamanan.
Tahukah kau akan itu, wahai suamiku?!

Diamku adalah usaha terbaikku untuk mampu mendengar, menelan, dan menyimpan segala kecewa.
Baikku adalah usaha untuk menyembuhkan luka dihati.
Senyumku adalah peringan beban hati.
Kesibukanku adalah obat amnesia bagi rasa sakit atas malam yang bersembunyikan tangisan.
Tahukah akan itu, wahai suamiku?!

Ingatlah ketika dulu kau minta diriku dari kedua orangtuaku.
Kau yakinkan aku pada keputusan besar hidupku.
Dan kau tawan aku dengan akad nikahmu.
Buku hijau bertuliskan namamu dan namaku mungkin terlalu lama kau simpan hingga tak sempat kau baca untuk sekedar mengingatkanmu.

Pintaku tak banyak, karena bisa hidup berdampingan penuh kasih sayang denganmu itu sudah lebih dari cukup untukku.
Kesabaranmu….itu harapku,
Kelembutan katamu…itu dambaku,
Perlakuan baikmu…..itu keinginanku,
Tatapan sayangmu….itu pintaku.

Bukankah hidup akan terasa damai dan indah bila semua dijalani dengan cinta penuh kasih sayang?!
Yang tertuang dalam perilaku keseharian.
Yang terlahir dalam ucapan,
Yang terkuatkan dalam tatapan.

Biarlah, hanya potret kenangan pernikahan yang semakin buram.
Namun jangan pada potret kenyataan pernikahan.

Pahamkah itu, wahai suamiku?!

(Curahan ini terinspirasi oleh beberapa keluhan Shalihaat yang datang menemui, atau beberapa message yang dikirimkan. Curahan yang mungkin bisa mewakili harapan banyak hati. Karena sejatinya, tiadalah yang dicari dalam sebuah pernikahan kecuali KEBAHAGIAAN. Semoga bermanfaat.)
Share:

Popular

Pengunjung saat ini

Ruang Siar

Label

Label Cloud