ALLAH, SANG PEMBOLAK_BALIK HATI



Sedikit berbagi dari sebuah pengalaman empat tahun lalu, semoga menjadi solusi bagi para orangtua yang sedang dilema ingin menyekolahkan anaknya ke pesantren namun mendapati sang anak ‘emoh’ untuk masuk kesana dengan berbagai alasannya. Atau kehendak suami atau istri berbeda.

Dan kisahpun dimulai…..

Menyadari satu tahun lagi anak pertama akan segera menamatkan pendidikannya di SD, saya segera menggali darinya untuk mengetahui ke sekolah mana dia ingin melanjutkan pendidikannya. Dan ternyata sekolah pilihannya adalah SMP umum. SMP terbaik yang ada di kota kami. Sebagai ibu….mendukung dooong apa yang menjadi pilihannya. Sepanjang pilihan sang anak adalah baik, orangtua mana sih yang tidak mensupportnya. J

Di sisi lain, seringkali saya bicara banyak dengan suami tentang harapannya atas pendidikan anak-anak.  Dan ternyata justru mengharapkan untuk lebih mengarahkan anak-anak belajar di pesantren. Jadilah kami saat itu saling meyakinkan satu sama lain atas pilihan ke depan sekolah anak-anak. Bahasa kerennya: kami berdebat bin bertukar fikiran. Maklum, saya pribadi saat itu lebih memilih untuk mendukung pilihan anak dengan alasan pendidikan agama bisa diberikan dengan cara lain. Melalui private di rumah, misalnya. Namun nampaknya, suami sangat ’keukeuh’ dengan keinginannya. Dia merasa sangat khawatir dengan lingkungan pergaulan anak-anak sekarang. Disamping, ingin menguatkan pendidikan agama  yang ‘benar’ sedari kecil. Maklum, semakin kesini, aliran-aliran dan pemahaman agama tambah ‘terseok-seok’. Pemerintah Negara kita sangat tumpul dalam hal ini. Segala macam pemikiran agama yang ngawur sekalipun dibiarkan atas dasar HAM. Perbedaan yang sangat tajam danmendasar dalam agama (Ifthiraq) dibiarkan. Keputusan MUI kadang kurang ‘bergigi’ akibat pemerintah mendukung ‘setengah hati’, akibatnya masyarakat seringkali mengabaikannya. Bahkan terkadang justru menentangnya. Menyedihkan sekali.  Suami berharap besar: anak-anak kami memiliki basik agama yang cukup baik sehingga tidak mudah tergelincir pada pemahaman agama yang salah. Soal nanti mereka akan menjadi apa, terserah anak-anak. Yang penting, agama menjadi pondasi dasarnya.

Hmmm…alasannya cukup masuk akal dan bisa dipahami. Jadilah itu sebuah PR besar untuk menjembatani keinginan yang berbeda: anak dan suami.

Demi menguatkan langkah, saya seringkali sharing atas hal ini dengan salah seorang sahabat yang memiliki pendidikan serta memahami psikology anak. Bagaimanapun, saya tidak ingin anak-anak bersekolah di pesantren dengan amat sangat terpaksa hanya demi memenuhi keinginan orangtua semata. Rasanya lebih menyenangkan dan melegakan apabila  anak- anak sekolah dimanapun atas dasar keinginan dan kesadarannya sendiri sehingga mereka bisa ‘enjoy’ dengan lingkungan dan pelajaran yang ada. Belajarpun MENYENANGKAN dan BERSEMANGAT. Sedangkan bila belajar sudah enggan di awal, maka semangat akan hilang dan belajarpun akan dirasa sebagai sebuah BEBAN.

Mulailah dari sana, saya sering mengajak anak untuk bertukar fikiran, berbagi harapan, dan menanamkan pemahaman tentang pentingnya bersekolah di pendidikan agama, dalam hal ini pesantren.

Bukan hal yang mudah bisa mengarahkan pilihan anak yang sudah kadung memiliki sekolah ‘fave’nya sendiri, sekaligus memiliki pandangan agak ‘minor’ tentang pesantren. Terkadang saya merasa kelimpungan menghadapi tentangan anak. Gaswaat….apa lagi yang harus saya lakukan?!

Akhirnya, saya berdoa pada Allah agar Dia memberikan kami  kemudahan dalam urusan ini. Membalikkan hati anak kami sehingga pesantren menjadi pilihannya sendiri.

Hingga satu hari, saya berbincang dengannya,
Bunda: Teh, gimana…..sekarang mau khan meneruskan ke pesantren?!
Ananda: Gimana ya, Teteh bingung. (Teteh adalah nama panggilannya)
Bunda: Masa? Kemarin ustadz…..(saya menyebutkan nama pimpinan pesantren saat itu) nanyain Teteh, lho. Mau kemana katanya anak Bunda sekolahnya?
Ananda: Wah, masa?
(dengan nada terkejut).

Dia terdiam sejenak. Mungkin….mungkin yaaa….perkataan saya itu membekas padanya. Nampak sesaat sanga anak berfikir. Tiba-tiba anak saya berkata,
Ananda: Iya deh Bunda, Teteh mau sekolah di pesantren.
Bunda: Wah….benar, Teh. Benar, nih?
Ananda: Benar, Bunda. Teteh mau sekolah di pesantren.

Subhanallaaah…..sekarang justru saya yang balik terkejut dengan jawaban anak. Hanya dalam hitungan menit, pilihannya bisa berubah banyak. Peristiwa ini terjadi (kalau tidak salah) satu bulan jelang pendaftaran.  Lega rasanya. Alhamdulillah….masa debat berlalu sudah.

Saat itu, benar-benar saya rasakan tangan kuasa Allah berbicara  banyak. Bila bukan Allah yang memudahkan semuanya, rasanya akan sulit membimbing dan mengarahkan anak. DOA, ternyata menjawab banyak setiap kesulitan.

Shalihaat, pengalaman ini memberikan penguatan pelajaran hidup:
selalu sempurnakanlah usaha kita dalam mendidik anak dengan DOA. Doa akan menjawab banyak setiap kesulitan-kesulitan yang kita hadapi.

Bila bagi kita terasa sulit, maka tak ada yang sulit bagi Allah,
Bila bagi kita terasa berat,maka tidak ada yang berat bagi Allah,
Bila bagi kita terasa tak mungkin, maka tak ada yang tak mungkin bagi Allah.

Dia menggenggam hati setiap hamba-Nya, maka kepada Dia-lah kita meminta. Hanya Dia-lah yang berkuasa untuk membolak-balikkan hati. 

يَـــامُـقَلِّبَ الْـقُلُـــــــــــوْبِ، ثَـبِّتْ قَـلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

“Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu.” (H.R. At-Tirmidzi, Ahmad, dan al-Hakim)
Share:

RAMADHAN HAPPY DENGAN KEGIATAN BERMANFAAT




Alhamdulillah, Ramadhan tiba sudah. Bulan suci penuh berkah. Siapapun orangnya, sepanjang iman terpaut dalam hatinya, pastilah bahagia memenuhi dadanya. Bagaimana tidak, Ramadhan adalah bulan panen pahala dan kebaikan bagi kita. Allah akan melipatgandakan setiap amal shalih dan amal ibadah yang dilakukan hamba-hamba-Nya. Oleh karenanya, akan teramat rugilah apabila kita sampai melewatkan Ramadhan begitu saja. Dari satu kebaikan pahalanya akan dicatatkan sebagai 10 kebaikan yang kemudian beranak pinak hingga tujuh ratus bahkan bisa lebih daripada  itu.  
عَنْ ابْنِ عَبَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلى الله عليه وسلم فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ : فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَةَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ  ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ، وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً
[رواه البخاري ومسلم في صحيحهما بهذه الحروف]
“Dari Ibnu Abbas radhiallahuanhuma, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam sebagaimana dia riwayatkan dari Rabbnya Yang Maha Suci dan Maha Tinggi : Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan, kemudian menjelaskan hal tersebut : Siapa yang ingin melaksanakan kebaikan kemudian dia tidak mengamalkannya, maka dicatat disisi-Nya sebagai satu kebaikan penuh. Dan jika dia berniat melakukannya dan kemudian melaksanakannya maka Allah akan mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat bahkan hingga kelipatan yang banyak. Dan jika dia berniat melaksanakan keburukan kemudian dia tidak melaksanakannya maka baginya satu kebaikan penuh, sedangkan jika dia berniat kemudian dia melaksanakannya Allah mencatatnya sebagai satu keburukan. “ (Riwayat Bukhari, Muslim)
Untuk memaksimalkan ikhtiar kita dalam mengisi kegiatan di bulan Ramadhan, bolehlah Shalihaat tengok beberapa alternatif aktivitas ini. Semoga menjadi solusi bagi yang mungkin masih bingung mau ngapain ya Ramadhan tahun ini.
Deretan kegiatan Ramadhan yang rancak dengan pahala:

1. Pesantren kilat
Nampaknya kegiatan yang satu ini paling fave-nya para remaja. Mengikuti kajian ilmu agama selama dua atau tiga minggu yang diselenggarakan para aktivis mesjid/pesantren. Banyak pengetahuan agama yang akan didapat dari kegiatan ini, selain tentu saja teman-teman yang bertambah. Bacaan dan hapalan al-quran, praktik ibadah,  hukun dalam agama (fiqih) adalah contoh materi sanlat yang biasa diberikan. Di akhir acara “Paskil” diadakan buka bersama. 

2. Santunan bagi anak yatim atau orangtua jompo.
Ada satu ide yang saya dapatkan dari salah seorang karyawanku di radio. Dan ide ini menarik sekali. Soalnya ide ini merupakan gabungan dari kegiatan sosial dan unjuk kabisa dalam bidang seni/menyanyi.

Jelasnya, sekelompok remaja yang memiliki kemampuan memainkan alat musik dan yang bisa menyanyi berkumpul di satu tempat keramaian. Misalnya, alun-alun, atau pusat perbelanjaan. Kemudian, mereka menyanyi diiringi alat musik dengan tujuan untuk menggalang dana yang nantinya akan disumbangkan untuk santunan kepada anak-anak yatim atau orang tua jompo. Atau bisa juga kita berikan kepada tuna netra. Bergantung pada kepada siapa kita hendak menyampaikan santunan tersebut.

3. Menyebar dakwah/semangat kebaikan melalui media sosial.
Selama ini, kita seringkali lebih banyak mempergunakan media sosial untuk mengungkapkan perasaan hati kita. Memposting sesuatu tentang macam apa yang kita rasakan, kejadian yang sedang berlangsung, sampai pada gerutuan dan kemarahan pun di”share” disana. Tidak salah memang. Siapapun berhak untuk mempostingkan apapun yang dia mau. Bermain di dunia maya tak ada aturan yang mengikat. Satu-satunya aturan hanyalah nilai diri yang kita punya.
Ramadhan ini saatnya kita untuk lebih peduli untuk bisa mengelola media sosial lebih arif. Bagaimanapun, setiap apa yang kita postingkan akan meminta pertanggungjawaban.
Allah swt berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى (39) وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى (40) ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَى (41) وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى (42)

“Dan bahwa setiap manusia tiada memperoleh selain apa yang diusahakannya, dan bahwa usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna, dan bahwa kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu). “ (QS. An-Najm: 39 – 42)
Naaaaah, pada moment Ramadhan kali ini, tak ada salahnya untuk kita mencoba belajar mempostingkan sesuatu yang baik-baik saja. Syukur-syukur bisa memberi manfaat bagi yang membacanya.

Coba mulailah melalui tulisan-tulisan sederhana dahulu. Tak perlu khawatir kalimatnya pas atau tidak. Insyaallah, nanti juga seiring dengan semakin terlatihnya kita dalam menulis, gaya penulisan itu akan berubah dengan sendirinya menjadi lebih baik. Akhirnya, nanti kita akan bisa membuat tulisan-tulisan yang lebih panjang. 

Banyak membaca dan belajar dari penulis sebelumnya akan sangat membantu. 

3. Hidupkan shalat berjamaah di rumah atau di tempat kerja
Shalihaat….betapa indahnya kehidupan kita apabila shalat berjamaah menjadi kebiasaan baik di rumah maupun di tempat kerja. Ada suasana dan perasaan yang lain hadir dalam hati kita. Seolah-olah waktu-waktu kita menjadi lebih berkah, kerja kita lebih berkah, hati tenang, batin tertautkan satu sama lain dengan anggota keluarga/rekan kerja.

4. Tadarus al-Quran
Alokasikan waktu sedemikian untuk kita bisa bertadarus al-Quran. Selepas  shalat yang lima waktu, di sela-sela kesibukan kerja, saat berada di angkutan umum, saat menunggu seseorang, dan kapanpun yang memungkinkan untuk itu. So, bekalilah diri dengan al-Quran kecil kemanapun kita pergi, untuk mempermudah upaya kita bisa membaca al-Quran kapanpun dibutuhkan.

5. Ikut pengajian Ramadhan
Biasanya nih….saat Ramadhan seperti ini banyak sekali pesantren, organisasi Islam, atau majelis ta’lim yang mengadakan kegiatan khusus di Bulan Ramadhan, seperti pengajian, kajian ilmu agama, belajar tahsin, khataman al-quran, dll. Bila memungkinkan, boleh juga tuh sambil membawa seluruh anggota keluarga kesana. Hitung-hitung belajar agama bersama.

Bayangkan, betapa indahnya saat pagi-pagi pergi berjalan beriringan dengan suami/istri tercinta dan anak-anak tersayang pergi ke majelis ilmu. Subhanallah….indah sekali.

6. Tetap semangat ’45 dalam bekerja dan berusaha
Shaum tak ada urusannya dengan lemahnya semangat kerja. Shaum semestinya tetap membuat kita semangat, tak loyo, apalagi malas-malasan. Bukan umat Rasulullah saw kebiasaan malas seperti itu. Ingat di jaman dahulu, ada banyak peperangan yang dilakukan Rasulullah saw pada saat Ramadhan. Dan tetap berpuasa. Bisa dibayangkan bagaimana beratnya perjuangan mereka. Sedangkan keadaan kita sekarang berbedasama sekali. Negara aman, beribadah tenang, kumpul bersama keluarga. Kita hanya tetap harus kerja tanpa hars memanggul senjata. Lantas apa alasan kita untuk bermalas-malasan atau sedikit santai?! Malu ah…..!

Bila kita memiliki pandangan bahwa semua aktivitas yang kita lakukan adalah ibadah, dan apa yang kita kerjakan dapat menjadi jalan dakwah…insyaallah tak ada ruang dalam diri kita untuk banyak  berleha-leha. Bekerja di saat shaum akan sama baiknya (bahkan lebih baik) dengan bekerja di waktu biasa.

7. Muraja’ah al-Quran
Mengulang kembali  hapalan al-Quran yang selama ini sudah dikuasai, bolehlah dimasukkan sebagai salah satu aktivitas di bulan Ramadhan. Dengan demikian hapalan al-Qurannya akan lebih terjaga.   

8. Ngabuburit bersama sang buah hati
Bagi para orangtua yang masih memiliki anak kecil yang sedang belajar shaum Ramadhan, pastilah acara ‘ngabuburit menjadi sarana untuk meredakan kerewelan anak dari payahnya shaum dan mengalihkan perhatian mereka pada hal-hal yang menyenangkan. Keliling kota atau menyusuri pematangan, melihat pemandangan…Subhanallah pasti menyejukkan penglihatan dan menentramkan hati. Terkadang, sekali-kali kita membelikan anak makanan untuk berbuka.
Ngabuburit sambil nonton film kisah para Rasul atau film keajaiban penciptaan semesta dan mengenal tentang makhluk lain ciptaan Allah karya Harun ar-Rasyid bisa pula dijadikan pilihan. CD dan DVD-nya sudah banyak beredar di pasaran. Jadi sang anak merasa tehibur sambil menyelami ilmu.

8. I’tikaf
Sebenarnya, saya sendiri belum pernah mengikuti i’tikaf, namun mendengar cerita salah seorang teman, rasanya asyik juga ya bila satu saat nanti kita bisa ikut i’tikaf di satu tempat bersama suami. Mengisi 10 hari terakhir Ramadhan di mesjid melakukan banyak kegiatan keagamaan mulai dari tadarusannya, kajian ilmu agamanya, berdzikir, berdoa, dsb. 

I’tikaf adalah salah satu tuntunan agama yang dituntunkan oleh Rasulullsah saw kepada kita. Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk meraih lailatul qadar. Beliau ingin mengasingkan diri dari berbagai kesibukan dengan melakukan i’tikaf. Dengan menyendiri akan lebih berkonsentrasi dalam dzikir dan do’a. Dan beliau pun benar-benar menjauh dari manusia kala itu.”

Berita baiknya bagi kita adalah sekarang ini kegiatan i’tikaf sudah lebih terkoordinir, sehingga kegiatan yang dilakukan lebih beragam dan tidak membosankan. Ada sesi belajar tahsin, hapalan al-Quran, kajian hadits, kajian kitab, tausiyah, mempelajari hukum agama, dllyang dipandu oleh para Ustadz yang kompeten di bidangnya. Asyik, khan?! 

I’tikaf jadi jadi lebih bersemangat dan menyenagnkan. Ilmunya dapat, waktu pun terisi padat.
Semoga dengan menyepikan diri beri’tikaf di mesjid seperti yang dilakukan Rasulullah saw menjadi jalan bagi kita untuk bisa mendapatkan malam lailatul Qadar.
Shalihaat, itu dia beberapa alternative kegiatan yang bisa kita lakukan dalam mengisi Bulan Ramadhan dengan kegiatan yang bermanfaat. Pilihan lainnya yang mungkin lebih baik, pastilah masih banyak. Ini hanya sedikit alternatif dari itu semua. 

Semoga bermanfaat.
Share:

HATI YANG SELAMAT



Garut, 26 Desember 2013

Shalihaat....pernah merasa disakiti? Dikhianati oleh orang yang selama ini kita sayangi? Dibohongi oleh seseorang yang selama ini kita percayai? Pasti pernah. Dan kalau kemudian saya tanya bagaimana perasaan Shalihaat pada saat itu? Jawabannya pasti serempak sama: sakit hati.

Bagaimana tidak sakit hati apabila yang melakukannya adalah orang yang begitu dekat dengan kita. Orang yang selama ini mendapat perhatian besar dari kita. Tapi apakah kemudian perasaan negatif itu akan terus dibiarkan bercokol dalam hati kita?! Mengambil seluruh hari-hari bahagia kita?! Menyedot seluruh energi positif kita?! No....no....no.....! Jangan biarkan itu terjadi! Teramat merugi bila rasa sakit mengambil seluruh hari-hari bahagia kita dan tanpa diikuti sikap positif.

Bagi kita, Shalihaat...apapun menu kehidupan yang ada di hadapan, selalu jadikan itu ‘batu loncatan’ untuk perbaikan hidup selanjutnya. Jangan biarkan kita terus berkutat di area yang tidak memberikan kontribusi kebaikan apapun. Pelajaran kehidupan harus jadi ladang amal dan lahan subur tempat karakter diri tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik. Bisakah? Insyaallah, bisa sepanjang kita mampu mengolahrasa, mengendalikan diri. Caranya:

1. Menangislah bila itu memang perlu              
Saya fikir, sejenak menjatuhkan air mata sebagai tanda kesedihan adalah reaksi alamiah untuk melepaskan sebagian energi-energi negatif yang ada dalam tubuh. Energi yang terlepas bebas akan mengurangi tekanan rasa yang ada, meringankan hati, mencerahkan fikiran, dan membebas sebagian beban diri. Itulah mengapa, belum apa-apa, hanya dengan menangis seseorang sudah merasakan beban masalahnya seakan berkurang. Hatinya berasa plong. Dan itu amat sangat membantunya untuk bisa bersikap lebih tenang, mengambil langkah keputusan atas masalah dengan kepala dingin, dan tidak terlalu banyak disetir oleh emosi yang meledak-ledak.

2. Bersikap tenang
Tak ada yang lebih baik dalam menghadapi sesuatu kecuali adanya sikap tenang. Tanpa itu, apapun sikap yang akan kita ambil, akan lebih tersetir oleh emosi yang sedang meluap. Energi negatif pun seolah mendapat jalan untuk dikeluarkan. Hati pun mendorong kita untuk terburu-buru melakukan sesuatu tanpa berfikir lebih panjang. Semua seolah mengarahkan kita pada gerak instan ‘saat itu’ dan  apapun hasilnya ‘gimana nanti’ saja.

Shalihaat, tak ada yang paling menyelamatkan kecuali bersikap tenang. Tapi tentu saja, hal ini tidak mudah untuk dilakukan. Bagaimana dalam keadaan hati kesal, marah, emosi memuncak, lantas pada saat yang bersamaan kita harus bersikap tenang dan tidak terpancing emosi. Terbayang kesulitan dalam memanage diri sendiri. Hanya selagi kita mau belajar untuk ‘mengolah rasa’ pasti bisa. Caranya:
* Setiap kali kita mendapat masalah, selalu jadikan itu sebagai sebuah latihan/PR yang harus kita diselesaikan dengan baik dalam menjalani Sekolah Kehidupan.
* Pandanglah masalah/ujian itu sebagai sebuah tantangan/peluang dan bukan sebagai sesuatu yang akan mengancam dan menghancurkan kehidupan kita.
* Singkirkan jauh-jauh fikiran bahwa kita adalah makhluk satu-satunya di dunia yang paling menderita. Ingat....di luar sana, masih banyak orang lain yang keadaannya tidak seberuntung diri kita dengan ujian yang  jauh lebih berat. Dibanding jumlah kesulitan, masih terdapat banyak kebaikan dan keberuntungan yang kita miliki. Dari karunia berupa kesehatan saja berapa banyak kenikmatan yang kita nikmati daripadanya. Tak terhitung. Preteli saja bagaimana masing-masing organ tubuh dapat berfungsi dengan baik sehingga bisa menopang ajegnya tubuh dalam melakukan banyak hal. So....apa alasan yang membuat kita lantas merasa dengan ujian hidup lantas membuat ‘dunia seakan runtuh’?
* Selalu belajarlah sesuatu dari setiap masalah hidup yang akan membuat kita menjadi lebih baik dan lebih baik. Apabila didapati kesalahan pada diri, akui, minta maaf dan perbaiki. Namun apabila yang terjadi sebaliknya, belajarlah untuk tetap berendah hati.
* Kuatkan tekad dan yakini untuk menjadikan kita sebagai sosok sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah Saw yang artinya:
“Sangat mengagumkan keadaan orang mukmin itu, sebab keadaan bagaimanapun baginya adalah baik dan tidak mungkin terjadi demikian kecuali bagi seorang mukmin saja. Jika mendapat nikmat ia bersyukur dan itu baik baginya, dan apabila menderita kesusahan, ia bersabar, maka itupun baik baginya. ” (HR. Muslim)
* Mintalah nasehat dari orang-orang yang arif dan lebih dewasa dalam pemikiran di sekeliling kita. Mereka bisa orangtua kita, suami/istri, saudara, sahabat, ustadz/ah, atau siapapun itu yang bisa memberikan masukan berharga untuk kita. Yang dalam memberikan nasehatnya bukan saja memberikan solusi akan tetapi juga menenangkan. Dan bukan malah mengompori keadaan menjadi lebih ‘panas’.
* Sadarilah, bahwa hidup ini selalu berbanding lurus antara perbuatan dan hasilnya. Setiap kali kita melakukan kebaikan kepada orang lain, maka hakekatnya kita sedang memperlakukan baik diri sendiri. Begitupula sebaliknya, apabila kita melakukan perbuatan buruk pada orang lain, maka sebenarnya kita sedang memperlakukan buruk diri sendiri. Kesadaran ini akan menjaga kita untuk selalu berhati-hati dalam menjalani hidup karena apapun yang kita lakukan, semua akan berbalik pada diri sendiri. Disamping juga, akan lebih menenangkan diri untuk tidak memiliki perasaan dendam dan benci berlebihan pada siapapun orang yang telah berlaku buruk atas kita.
* Tak ada tempat bergantung dan memohon perlindungan yang paling baik selain Dia, Allah Swt. Ada sesuatu yang bisa kita lakukan, fikirkan dengan keterbatasan kapasitas yang kita miliki sebagai manusia. Namun di samping itu, banyak hal yang luput dari kemampuan diri. Maka setelah usaha perbaikan maksimal kita lakukan, selanjutnya biarkan tangan-tangan kuasa Allah yang bermain atasnya. 
* Yakini pula, bahwa banyak cara Allah dalam menunjukkan rasa sayang pada hamba-Nya. Dan salah satunya adalah melalui pemberian ujian. Saat Allah menghendaki sesuatu yang lebih baik bagi hamba-Nya baik dari sisi kemampuan, daya juang hidup, tingkat keimanan, kemapanan, sampai pada kualitas hati, maka Allah akan membekali hamba-Nya dengan perangkat-perangkat hidup yang diperlukan untuk menuju kesana.

Rasulullah Saw bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang dikehendaki Allah suatu kebaikan (keuntungan) maka diberinya  cobaan. “ (HR. Bukhari)

3. Sabar.
Kesabaran merupakan sebuah ‘password’ yang Allah berikan kepada manusia agar selamat dalam menjalani hidup sebagaimana yang terdapat dalam firman-Nya pada QS al-Baqarah: 153
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta dengan orang-orang yang sabar. “

Tidak ada kekayaan yang paling besar dalam menghadapi hidup dengan segala macam ujiannya kecuali kesabaran. Kesabaran selalu menghantarkan kita pada ketenangan. Melindungi hati dari banyak berkeluh-kesah, menjaga diri dari perilaku grasa-grusu.

Dr ‘A’id Abdullah al-Qarni dalam bukunya “Silahkan Terpesona” mengatakan “Kelemahan   hanya dapat disembuhkan dengan kesabaran. Jiwa yang terluka pun hanya dapat disembuhkan dengan kesabaran.  Kesabaran adalah penepis kegelisahan, penggembira orang yang murung, penghibur orang yang lelah, dan pemberi belansungkawa bagi orang yang mendapat musibah. “

Tidak mudah untuk berlaku sabar, namun bukan hal tak mungkin bila kita terus menjadikannya bagian dari sifat kita. Sehingga bolehlah kita memperhatikan dengan seksama apa yang disampaikan oleh Dr ‘A’id Abdullah al-Qarni tentang beberapa faktor yang bisa membantu kita untuk memperoleh kesabaran yang indah:
Keyakinan akan tiada gunanya menepis takdir.
Keyakinan akan besarnya pahala bagi sang penyabar.
Memperhatikan sekeliling kita atas banyaknya orang-orang yang tertimpa musibah.
ü  Dalam setiap kegembiraan  pasti adalah kesedihan, dan pada setiap kenikmatan terkandung pelajaran.

4. Syukur
Shalihaat, bersyukur kita dilahirkan di tanah Sunda. Ada satu hal yang membuat saya selalu kagum dengan pribadi orang Sunda, yaitu kebiasaannya mengatakan “untung” sekalipun dirinya sedang mendapat musibah. Misalnya ketika sepedanya terserempet motor, dalam kagetnya dia masih mengatakan, “Untung hanya terserempet, coba kalau ketabrak, waduuuh....celaka! “
“Untung bukan kepalanya yang kena pukulan, tapi kakinya. “

Kemampuan untuk melihat sisi terbaik dari setiap ujian akan sangat membantu kita untuk selalu bersyukur. Selain takaran ujian Allah sesuaikan dengan kadar kemampuan diri, tentu saja dibalik ujian, banyak kebaikan sebenarnya yang Allah ‘simpan’ disana.  Misalnya saja dibalik  sakit hati karena merasa merasa dikhianati,  Tidakkah terfikir bahwa sebenarnya saat itu Allah sebenarnya sedang menolong membukakan mata hati akan pengkhianatan yang terjadi di belakang kita. Seandainya Allah tidak segera menolong pada saat yang tepat, boleh jadi begitu banyak ‘kebangkrutan’ hati dan materi yang sudah terjadi.

Fikiran dan perasaan yang terlalu fokus pada rasa sakit hati, menutup mata bathin untuk melihat pertolongan Allah yang jelas ada di hadapan.
Namun tentu saja, ini bukan berarti bahwa ketika mendapat ujian kita harus bergembira, akan tetapi lebih kepada agar kita tidak terlalu larut dalam kesedihan dan segera move on.

6. Setiap perilaku akan kembali kepada pemiliknya.
Perbuatan baik/buruk yang kita lakukan terhadap orang lain pada hakekatnya adalah kita sedang memperlakukan baik/buruk diri sendiri. Begitu pula sebaliknya. Karena setiap perbuatan, dia akan kembali kepada sang pelakunya. Cepat atau lambat.

Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Hijr: 92-93
فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ () عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. “

Menyadari hal ini, akankah lara hati kita biarkan bercokol di diri? Masih perlukah kita membalas keburukan dengan hal yang sama?! Saya yakin....waktu yang kita luangkan untuk menata hati dan memperbaiki keadaan akan jauh lebih penting dibandingkan kasak-kusuk untuk hal yang tak perlu.
Share:

Popular

Pengunjung saat ini

Ruang Siar

Label

Label Cloud